SUMBA TIMUR, BTN – Keindahan alam yang memukau sering kali menjadi modal utama sebuah destinasi wisata. Namun, keindahan saja tidak lagi cukup di tengah ketatnya persaingan pariwisata modern. Menyadari hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur mulai bergerak cepat untuk menyulap Jejeran Bukit Tanarara menjadi destinasi unggulan yang mandiri, profesional, dan berdaya saing tinggi. Selasa 30/06/2026
Langkah nyata ini diawali dengan menggelar program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan Ekonomi Kreatif Tingkat Dasar Tahun 2026. Berpusat di Desa Persiapan Hawurut, Kecamatan Matawai La Pawu—yang merupakan gerbang utama menuju eksotisme Tanarara—kegiatan ini dikemas melalui Program Sosialisasi Sapta Pesona untuk membekali masyarakat lokal selaku pilar utama penggerak pariwisata.
Kawasan Hawurut dan Tanarara memang sedang diproyeksikan menjadi salah satu desa wisata alam andalan baru di Sumba Timur. Melalui inisiatif ini, fokus pembangunan tidak lagi hanya tertuju pada infrastruktur fisik, melainkan pada kesiapan mental, pengetahuan, dan keterampilan masyarakat setempat dalam menyambut wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dalam pelatihan tersebut, warga desa tidak hanya diajarkan cara menyapa tamu, tetapi juga dibekali dengan keterampilan teknik storytelling (seni bercerita). Pendekatan mutakhir ini mengajak masyarakat untuk mengangkat fakta, sejarah, mitos, hingga keunikan budaya lokal menjadi sebuah narasi memikat yang mampu menyentuh emosi dan rasa ingin tahu para pelancong.
”Lewat storytelling, kita ingin menghadirkan pengalaman berwisata yang holistik. Tanarara tidak boleh hanya indah di mata dan kamera, tetapi harus membekas di hati dan membawa pulang kesan mendalam yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung,” ujar salah satu fasilitator kegiatan.
Selain seni bercerita, prinsip Sapta Pesona ditanamkan sebagai fondasi mendasar dalam pengelolaan destinasi. Warga diajak untuk berkomitmen penuh dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan penuh kenangan. Ketujuh unsur ini dinilai menjadi kunci utama agar wisatawan merasa betah dan rindu untuk kembali berkunjung.
Melalui penguatan ekonomi kreatif yang berbasis pada potensi lokal, sektor pariwisata di kawasan ini diyakini akan menjadi mesin penggerak ekonomi baru. Jika dikelola secara profesional oleh tangan dingin masyarakat setempat, ekosistem wisata Tanarara diprediksi mampu membuka lapangan kerja luas dan melahirkan berbagai peluang usaha mikro yang produktif.
Kini, Jejeran Bukit Tanarara tengah bertransformasi dari sekedar bentang alam yang sunyi menjadi destinasi yang memiliki jiwa, identitas, dan narasi budaya yang kuat. Dengan kombinasi lanskap perbukitan yang megah dan keramahan warga yang terampil, Tanarara siap mengambil posisi strategis di panggung pariwisata nasional.
Namun, perjalanan baru saja dimulai. Tantangan terbesar pasca-pelatihan ini adalah memastikan bahwa semangat yang membubung selama sosialisasi tidak menguap begitu saja, melainkan mengkristal menjadi aksi nyata yang konsisten di lapangan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
Oleh karena itu, sinergi dan kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah, masyarakat, komunitas kreatif, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi harga mati. Hanya dengan kerja bersama yang berkelanjutan, mimpi besar untuk menjadikan Tanarara sebagai ikon baru pariwisata Sumba Timur dapat benar-benar terwujud dan membawa kesejahteraan yang merata.
Alex Ratu Peha.






