Scroll Untuk Lanjut Membaca

WAINGAPU, SUMBA TIMUR, BTN — Bendera dikibarkan. Pancasila dibacakan. Ikrar dikumandangkan. TNI-Polri, pemerintah daerah hingga pelajar berdiri dalam satu barisan. 1/10/2026

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Kamis, 1 Oktober 2026, di halaman depan Kantor Bupati Sumba Timur, menjadi momentum untuk kembali menegaskan Pancasila sebagai dasar negara dan titik temu kehidupan kebangsaan.

Upacara dimulai pukul 07.00 WITA dengan tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Bupati Sumba Timur bertindak sebagai Inspektur Upacara. Kapten Inf Samsiadi dipercaya sebagai Perwira Upacara, sementara Lettu Inf Nicolas Klau Seran bertindak sebagai Komandan Upacara.

Peserta upacara berasal dari berbagai unsur, mulai dari Kodim 1601, Yonif TP 876/PLT, Brimob, Polres Sumba Timur, Satpol PP, hingga pelajar SMA, SMP dan SD.

Hadir pula unsur Forkopimda, pimpinan DPRD Kabupaten Sumba Timur, jajaran TNI-Polri, pimpinan instansi vertikal, organisasi wanita, tokoh masyarakat, perwakilan BUMN/BUMD dan perguruan tinggi.

Rangkaian upacara berlangsung khidmat. Mengheningkan cipta dipimpin langsung oleh Inspektur Upacara.

Bupati Sumba Timur membacakan Teks Pancasila, kemudian Lettu Inf Rafael Tende membacakan Naskah UUD 1945. Ikrar dibacakan oleh Ketua DPRD Kabupaten Sumba Timur, sementara doa dipimpin oleh perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Sumba Timur.

Upacara ditutup dengan laporan Komandan Upacara, penghormatan pasukan dan nyanyian Andhika Bhayangkari.

Di sinilah makna peringatan 1 Oktober tidak seharusnya berhenti pada susunan acara.

Sebab Pancasila bukan hanya lima sila yang dibacakan dengan suara lantang di hadapan barisan. Pancasila juga berbicara tentang bagaimana nilai persatuan, keadilan, kemanusiaan dan kepentingan masyarakat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, setelah lapangan kembali sepi dan barisan dibubarkan, pesan 1 Oktober justru memasuki ruang yang lebih nyata: tindakan.

Pancasila dibacakan di lapangan. Setelah barisan dibubarkan, pembuktiannya dimulai.

Bukan lagi soal siapa yang berdiri paling depan, siapa yang paling tegap memberi penghormatan, atau siapa yang paling lantang membacakan ikrar.

Yang diuji adalah apakah nilai Pancasila benar-benar hidup dalam tindakan—dalam pelayanan kepada rakyat, dalam menjaga persatuan, dalam memperlakukan masyarakat secara adil, dan dalam menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Sebab upacara hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi Pancasila harus hidup setiap hari.

Piter kabiro, Sumba Timur