BAJAWA, NTT, BTN – Di tengah gempuran modernisasi, masyarakat adat Bajawa di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus berkomitmen menjaga warisan leluhur mereka yang sarat akan nilai kemanusiaan. Salah satu filosofi terdalam yang masih teguh dipegang hingga hari ini adalah simbol keselarasan hidup, kesetaraan gender, dan persatuan masyarakat yang tercermin kuat dalam arsitektur serta ritus adat setempat. 27/06/2026
Pusat dari seluruh denyut nadi kehidupan, musyawarah, dan persatuan masyarakat adat ini bermuara di pelataran Sa’o Meze Tangi Lewa. Tempat sakral ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah ruang komunal di mana keputusan-keputusan besar terkait keberlangsungan suku dirumuskan demi kesejahteraan bersama seluruh warga.
Di pelataran inilah berdiri tegak Ngadhu dan Bhaga, dua simbol utama yang merepresentasikan keseimbangan mutlak dalam pandangan hidup leluhur Bajawa. Bagi masyarakat setempat, tidak ada patriarki maupun matriarki yang mendominasi; laki-laki dan perempuan dipandang memiliki martabat yang setara, saling melengkapi, dan berjalan beriringan demi keberlangsungan keluarga, suku, serta adat.
”Nilai luhur ini tercermin dalam ungkapan adat ‘Ine dhadhi, dhadhi da moka saki’, yang menegaskan bahwa seorang ibu melahirkan anak laki-laki dan perempuan dengan martabat yang sama untuk saling melengkapi dalam roda kehidupan.
Lebih lanjut, ikatan kekeluargaan dari garis keturunan ibu juga dijaga sangat erat, sebagaimana digambarkan dalam filosofi Pine ine, moe go manu da pojo pibe. Ungkapan ini mengibaratkan persaudaraan laksana kawanan ayam yang selalu bersama, melambangkan sebuah komitmen sosial yang kokoh dan tidak mudah tercerai-berai oleh konflik.
Selain hubungan sosial, rilis budaya ini juga menyoroti pentingnya penegakan hukum dan aturan adat melalui konsep Su’a ngaza, sare go mataraga. Di tempat suci inilah, petuah, aturan, serta keputusan-keputusan penting dirumuskan dengan bijaksana untuk memastikan keadilan sosial tetap tegak di tengah masyarakat.
Tak kalah menarik, siklus kehidupan manusia Bajawa dari masa lajang menuju gerbang pernikahan juga diatur dalam tata krama yang indah. Melalui perumpamaan Lau loka lau, go iki da neni manu, leluhur mengajarkan proses perkenalan yang santun antara pemuda dan gadis sebelum akhirnya melangkah ke jenjang rumah tangga yang sah secara adat.
Puncak dari prosesi sakral tersebut kemudian ditandai secara fisik dan ritual melalui keberadaan Zele ture teki rati jara dhewi. Di sini, Ture yang merupakan batu megalit berfungsi sebagai tempat ritual utama, sedangkan Rati Jara menjadi simbol sahnya pemenuhan kewajiban adat dalam proses lamaran melalui persembahan hewan.
Melalui rilis ini, masyarakat Bajawa menegaskan bahwa seluruh warisan budaya ini bukan sekedar romantisasi masa lalu atau tontonan semata. Di tengah derasnya arus perubahan zaman dan globalisasi, jati diri masyarakat Bajawa diyakini akan tetap kokoh berdiri selama nilai-nilai leluhur ini terus dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Menutup rangkaian narasi budaya ini, pemangku adat mengajak generasi muda untuk terus mencintai budaya, menghormati adat, dan menjaga warisan leluhur. Kesadaran untuk merawat tradisi ini adalah kunci utama agar identitas berharga khas Indonesia, khususnya keunikan fana dari tanah Bajawa, tidak hilang ditelan waktu.






