MANADO, SULUT – BTN 01/01/2026 – Mengawali tahun dengan duka mendalam, dunia pendidikan di Sulawesi Utara dihantam badai moral yang memuakkan. Kematian tragis saudari kami, Evia Maria Mangolo, bukan sekedar tragedi personal; ini adalah “Vonis Mati” bagi sistem perlindungan mahasiswa yang mandul dan bukti nyata betapa predator seksual masih bebas berkeliaran mengenakan jubah akademisi di tanah Nyiur Melambai.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Akun FB Pelaut Karangetang dengan ini mengeluarkan pernyataan sikap keras terhadap institusi pendidikan yang dianggap gagal total dan lalai dalam menjalankan amanah perlindungan nyawa manusia.

​Kami mengecam keras birokrasi kampus yang kerap lebih sibuk memoles “citra” dan “akreditasi” ketimbang menyelamatkan nyawa mahasiswa. Kami menuntut pembentukan Tim Pencari Fakta Independen yang melibatkan pihak eksternal dan aktivis hak perempuan. Investigasi tidak boleh dilakukan secara tertutup atau bersifat “jeruk makan jeruk”. Jangan biarkan institusi menjadi sarang bagi pelaku untuk bersembunyi di balik prosedur yang bertele-tele!

​Mimbar akademik adalah tempat suci bagi ilmu, bukan panggung bagi pemangsa. Kami menuntut pemecatan tidak hormat bagi oknum dosen pelaku tanpa ada ruang negosiasi. Institusi wajib berdiri di garda terdepan untuk menyeret pelaku ke ranah pidana, bukan justru menjadi “pengacara” terselubung bagi oknum yang telah merusak masa depan anak bangsa.

​Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Sulawesi Utara. Jika pelaporan masih dihantui oleh intimidasi nilai, ancaman akademik, atau birokrasi yang lamban, maka Satgas hanyalah pajangan administratif yang tidak berguna. Kami menuntut sistem pelaporan yang anonim, aman, dan bebas dari intervensi kekuasaan mana pun!

​”Jika pendidikan tidak bisa melindungi nyawa pelajarnya, maka gedung-gedung megah di kampus ini hanyalah tumpukan batu nisan bagi mimpi-mimpi yang terkubur.” Kampus wajib menyediakan layanan kesehatan mental profesional dan gratis bagi seluruh mahasiswa sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kegagalan mereka,menyediakan ruang aman (safe space).

Kami tidak butuh air mata buaya atau surat belasungkawa formal yang dingin dari para pimpinan perguruan tinggi. Kami butuh keadilan nyata. Kami butuh perubahan sistemik. Kematian Evia adalah lonceng kematian bagi ketidakpedulian birokrasi. Jangan biarkan ada lagi sepatu yang tertinggal di tepian gedung hanya karena dunia pendidikan gagal menjadi tempat yang lebih aman daripada kematian.

​#Saveutoevi

#DuniaPendidikanBerduka

#KampusBukanKuburan

#KeadilanUntukEvia