SANGIHE, Sulawesi Utara, BTN – Serangkaian persoalan di Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum ‘Ake u Wanua’ Kabupaten Kepulauan Sangihe kian memanas. Mulai dari pelayanan yang buruk hingga dugaan penyalahgunaan wewenang, manajemen perusahaan milik daerah ini didesak untuk segera berbenah. 2/8/2025
Kondisi ini membuat sorotan tajam mengarah pada kepemimpinan baru,Bupati dan Wakil Bupati Sangihe, Michael Thungari dan Bulahari (Tuari), untuk segera mengambil tindakan.
Salah satu sorotan tajam terbaru adalah proyek rehabilitasi kantor Perumda yang diduga menelan anggaran ratusan juta rupiah, dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari Dewan Pengawas (Dewas) maupun Pemerintah Daerah.
Ironisnya, tindakan ini terjadi di saat Direktur Perumda, Teguh Prahara Salainti, menolak mentah-mentah usulan Pemkab Sangihe untuk menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 100 juta.
“Saat rapat evaluasi diketahui Salainti tak mengindahkan dan menolak mentah-mentah usulan Pemkab akan permintaan target PAD di angka 100 juta rupiah,” ujar sebuah sumber internal.
Tindakan tersebut seolah menunjukkan sikap ‘masa bodoh’ dari Direktur Perumda terhadap kepemimpinan baru Tuari. Menurut sumber yang sama, direktur bahkan mengambil alih seluruh proses pengerjaan proyek, dari mencari pekerja hingga pelaksanaannya.
“Pengerjaannya saja dilakukan sendirian oleh direktur, yang cari orang kerja dia juga,” ungkap sumber tersebut.
Desakan Publik dan Peringatan Keras
Tokoh masyarakat Sangihe,
Sjahrul Ponto, mendesak Bupati Thungari untuk segera mengambil langkah tegas dan strategis. Ia menilai, sikap bandel manajemen Perumda adalah contoh nyata adanya ketidakpatuhan terhadap pimpinan tertinggi daerah.
“Bupati sudah harus mengambil langkah bijak demi menyelamatkan perusahaan milik daerah ini. Jika ditemukan kesalahan ataupun melanggar asas kepatuhan terhadap pimpinan tertinggi, maka sudah seharusnya dicopot,” tegas Ponto.
Menurut Ponto, sikap seperti ini tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga menciptakan preseden buruk terhadap kepemimpinan Tuari di mata publik. Ia bahkan menilai, persoalan ini mencerminkan masih adanya oknum-oknum di lingkungan pemerintahan yang tidak sepenuhnya menghargai kepemimpinan baru, entah karena persoalan usia pemimpin yang dinilai terlalu muda atau kurangnya ketegasan.
“Jangankan manajemen perumda, beberapa instansi dan pegawai pemkab saja seakan masih ada sikap pandang enteng terhadap bupati dan wakil bupati, entah karena persoalan usia mereka dinilai terlalu muda atau karena faktor kurangnya ketegasan dari dua pemimpin kita ini,” tambahnya.
Sebagai catatan, Perumda ‘Ake u Wanua’ sejak lama disorot karena berbagai persoalan, mulai dari pelayanan yang tidak maksimal, etos kerja pegawai yang rendah, hingga dugaan korupsi berjamaah. Situasi ini menuntut Tuari untuk segera melakukan perombakan besar dan membuktikan ketegasan kepemimpinannya demi kemajuan Sangihe ke depan. (e’Q)






