PATUKUKI, BTN – Slogan “Air adalah hak dasar” nampaknya hanya menjadi pajangan dinding bagi warga Desa Patukuki. 2/05/2026
Di tengah cuaca yang kian mencekik, warga desa justru harus menelan pil pahit akibat mampetnya aliran air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) selama berhari-hari, sementara tagihan dan denda tetap berjalan tanpa kompromi.
Pelayanan Lumpuh, Beban Rakyat Bertambah sehingga Keresahan warga meledak di media sosial. Berdasarkan pantauan dari suara konsumen, kondisi di lapangan sudah mencapai tahap memprihatinkan. Warga mengeluhkan pakaian yang mulai membusuk di dalam mesin cuci karena air berhenti mengalir tiba-tiba, hingga piring kotor yang menumpuk menimbulkan bau tak sedap di dalam rumah.
Salah satu warga, Hulinda Batampa, mengungkapkan kekesalannya. “Sudah hari ketiga air tidak mengalir. Pakaian membusuk, badan bau. Tapi dompet terus terkuras karena harus beli air galon atau ke warung siang-malam. Kalau begini terus, kami bisa bangkrut!” keluhnya.
Kritik paling tajam tertuju pada sistem penagihan PDAM yang dinilai tidak memiliki empati. “Air Mati, Denda Hidup” Warga merasa diperas karena meskipun hak mereka mendapatkan air tidak terpenuhi, kewajiban membayar tagihan bahkan denda keterlambatan tetap dipaksakan.
”Sebenarnya kalau lambat bayar air tidak usah kena denda, karena air juga tiap hari mati. Anggap saja itu pengganti air yang tidak mengalir,” tulis Fita Masrul, seorang warga yang suaranya didukung banyak netizen lainnya.
Sentimen serupa disampaikan oleh Mukmina Asis, yang bahkan menyerukan aksi massa jika PDAM tetap tidak mampu memberikan solusi nyata dan hanya tahu menagih uang yang tidak sesuai dengan pemakaian riil..
Melalui kampanye visual yang beredar, warga Desa Patukuki secara tegas menyampaikan tuntutan yang tidak bisa ditawar lagi ya itu :
1. Perbaikan Total
Perawatan pipa utama dan distribusi yang menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam..
2. Transparansi Informasi
PDAM dituntut jujur mengenai jadwal pengaliran dan penyebab gangguan..
3. Evaluasi Penagihan
Penghapusan denda atau kompensasi biaya selama air tidak mengalir.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PDAM belum memberikan klarifikasi resmi terkait lumpuhnya distribusi air di Desa Patukuki.
Warga menegaskan bahwa mereka bukan menolak membayar, melainkan menuntut pelayanan yang adil dan layak.
Jangan sampai publik berasumsi bahwa PDAM lebih peduli pada angka di kertas tagihan daripada nyawa dan sanitasi pelanggannya. Ungkap don






