SALAKAN, BANGKEP–BTN 04/03/2026- Praktisi hukum sekaligus tokoh aktivis kontrol sosial putra daerah Banggai Kepulauan (Bangkep), Muhammad Saleh Gasin, SH., MH., memberikan pernyataan menohok terkait fenomena “janji manis” yang sering menghiasi ruang publik di tanah kelahirannya.
Dalam sebuah narasi reflektif yang ia sampaikan hari ini, pria yang akrab disapa Saleh ini menegaskan perbedaan mendasar antara “Cinta di Kata” dan “Cinta di Hati” dalam konteks pengabdian kepada masyarakat Bangkep.
Menurut Saleh Gasin, saat ini Bangkep sedang dibanjiri oleh narasi-narasi indah yang ia sebut sebagai “Cinta di Kata”. Baginya, kata-kata manis dalam janji pembangunan atau retorika kesejahteraan sangat mudah dirangkai, namun seringkali menguap saat dihadapkan pada realita lapangan.
“Cinta di kata itu memikat, tapi sifatnya sesaat. Di telinga terdengar manis, tapi di hati rakyat yang sedang susah, itu tidak mengenyangkan. Bangkep tidak butuh pujangga, Bangkep butuh pejuang yang cintanya lahir dari hati dan terwujud dalam sikap nyata,” tegas Saleh Gasin dengan nada tanpa tawar-tawar.
Sebagai praktisi hukum yang kerap vokal menyuarakan kemaslahatan rakyat, Saleh menekankan bahwa cinta sejati kepada daerah harus diuji melalui kesetiaan dan pengorbanan.
“Cinta di hati itu tidak banyak bicara, tapi ia hadir dalam sikap konsisten membela hak rakyat. Ia terbukti dalam pengorbanan waktu dan pikiran untuk memastikan hukum tidak tumpul ke atas dan tajam ke bawah di tanah Bangkep ini,” lanjutnya.
Beliau menambahkan bahwa kontrol sosial yang ia lakukan selama ini adalah bentuk manifestasi cinta yang paling jujur. Baginya, mengkritik kebijakan yang tidak pro-rakyat adalah cara mencintai daerah dengan cara yang paling terhormat.
Menutup pernyataannya, putra daerah Bangkep yang dikenal berani ini mengajak seluruh elemen, baik pemangku kebijakan maupun tokoh masyarakat, untuk berhenti sekedar beretorika.
“Cinta sejati bukan tentang seberapa sering kita meneriakkan nama Bangkep di podium, melainkan seberapa dalam kita merasakan penderitaan rakyat dan seberapa tulus kita mewujudkannya dalam kebijakan yang adil. Bagi saya, kepentingan rakyat Bangkep adalah harga mati, tidak ada tawar-tawar!” pungkasnya menutup rilis tersebut.
Redaksi






