BATUI SELATAN –BTN 04/05/2026- Klaim manis PT Sawindo Cemerlang mengenai penguatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat di wilayah Batui Selatan memicu reaksi keras dari akar rumput. Narasi yang dibangun Humas perusahaan tersebut dituding sebagai upaya “cuci tangan” dan manipulasi fakta yang sangat kontras dengan penderitaan nyata yang dialami warga di lapangan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Kepala Desa Masing, Andi Satuwo, secara blak-blakan menyatakan kegeramannya terhadap pernyataan pihak perusahaan yang dianggap hanya indah di balik narasi. Menurutnya, kondisi ekonomi dan sosial warga saat ini justru kian terpuruk sejak kehadiran investasi yang disebut-sebut “ideal” tersebut.

​”Narasi yang dibangun oleh Humas PT Sawindo Cemerlang itu sangat berbalik arah dengan realitas yang kami hadapi sekarang. Itu bukan pemberdayaan, tapi pembodohan publik yang dikemas dengan bahasa investasi yang menyesatkan,” tegas Andi Satuwo kepada awak media dengan nada bicara yang bergetar menahan amarah.

​Lebih lanjut, Andi Satuwo menilai skema yang ditawarkan perusahaan hanya menguntungkan segelintir kelompok yang ia sebut sebagai “para penjilat” dan oknum yang mencari aman di ketiak korporasi. Baginya, kebijakan perusahaan saat ini sangat jauh dari prinsip keadilan sosial bagi seluruh masyarakat desa.

​”Jika dihitung-hitung, narasi mereka ini mungkin hanya menyelamatkan 10 jiwa saja, tapi di saat yang sama mereka mengorbankan ratusan jiwa lainnya. Ini adalah ketimpangan yang nyata, di mana mayoritas warga hanya menjadi penonton di tanah kelahiran mereka sendiri,” cetusnya tajam.

​Andi juga mengkritik keras keterlibatan tenaga kerja lokal yang diklaim perusahaan telah berjalan maksimal. Menurutnya, posisi-posisi strategis dan peluang kontraktor tetap didominasi oleh pihak luar, sementara warga lokal hanya diberi sisa-sisa pekerjaan kasar yang tidak memberikan dampak peningkatan taraf hidup secara signifikan.

​Kepala Desa Masing ini juga mempertanyakan efektivitas skema plasma yang selalu digembar-gemborkan PT Sawindo. Ia menilai janji kemandirian ekonomi melalui kebun plasma hanyalah “angin surga” untuk meredam gejolak masyarakat, sementara pada praktiknya petani seringkali terjebak dalam sistem yang tidak transparan.

​”Saya sangat geram melihat bagaimana korporasi ini memainkan kata-kata di media. Seolah-olah mereka adalah pahlawan ekonomi, padahal faktanya mereka sedang menggerus akar ekonomi masyarakat kecil secara perlahan namun mematikan,” lanjut Andi Satuwo dengan kritik yang menghujam.

​Bagi pemerintah desa, pernyataan Humas PT Sawindo Cemerlang, Fahrudin L. Mapatunru, yang menyebutkan sinergi masyarakat dan perusahaan sebagai kunci pembangunan berkelanjutan, dianggap sebagai retorika kosong yang tidak memiliki dasar di lapangan.

​Sinergi yang dimaksud perusahaan, menurut Andi, hanyalah kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan sepihak korporasi tanpa adanya ruang dialog yang jujur. Ia mencium aroma kuat bahwa narasi tersebut sengaja diproduksi hanya untuk mengamankan citra perusahaan di mata publik dan pemerintah daerah.

​Andi Satuwo menantang pihak manajemen PT Sawindo Cemerlang untuk turun langsung dan melihat bagaimana jeritan masyarakat yang lahannya kini terancam atau mereka yang kehilangan mata pencaharian tradisional akibat ekspansi perkebunan yang tak terkendali.

​Ia juga menegaskan bahwa pemerintah desa tidak akan tinggal diam melihat warganya “dikorbankan” demi kepentingan profit perusahaan yang rakus. Andi berjanji akan terus menyuarakan kebenaran meski harus berhadapan dengan tembok besar kekuasaan korporasi.

​Sebagai bentuk kepatuhan terhadap Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang menjunjung tinggi asas keberimbangan (Cover Both Sides), redaksi media ini tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak PT Sawindo Cemerlang untuk memberikan hak jawab, klarifikasi, maupun tanggapan resmi atas pernyataan keras Kepala Desa Masing ini. Hingga berita ini ditayangkan, media terus berupaya memverifikasi dampak lapangan dari klaim investasi tersebut.

​Penulis: Tim Investigasi/Redaksi