SUMBA TIMUR, BTN — Nasib masyarakat Desa Kukitalu dan Desa Maidang seolah masih terjebak dalam penantian panjang. Jalan penghubung yang mulai dirintis pada 2003–2004, pada masa kepemimpinan almarhum Bupati Ir. Umbu Mehang Kunda, hingga kini belum juga terwujud sebagaimana yang diharapkan masyarakat. 23/10/2026
Berdasarkan pantauan wartawan Brantas Tipikor New di lapangan serta hasil wawancara dengan masyarakat setempat, kondisi jalan tersebut kembali memunculkan pertanyaan serius: mengapa akses yang telah dirintis sejak puluhan tahun lalu belum juga mendapat penyelesaian yang jelas?
Masyarakat Kukitalu dan Maidang bukan baru hari ini mengharapkan pembangunan. Mereka telah menunggu bertahun-tahun, melewati pergantian kepemimpinan, sementara jalan yang menjadi harapan untuk memperlancar akses dan aktivitas kehidupan mereka masih menyisakan persoalan.
Seorang warga yang ditemui wartawan Brantas Tipikor New mengungkapkan kekecewaannya. Warga tersebut mengingat bahwa pada masa kepemimpinan almarhum Umbu Mehang Kunda, pernah ada janji untuk memperbaiki jalan itu.
“Sejak zaman Pak Umbu Mehang Kunda, Bupati pernah berjanji untuk memperbaiki jalan ini. Tetapi setelah beliau tidak lagi menjadi Bupati dan kemudian meninggal dunia, keadaan jalan ini masih seperti yang kamu lihat sekarang,” ungkap warga tersebut kepada wartawan.
Warga itu menolak namanya dicantumkan dalam pemberitaan. Pernyataan tersebut menjadi gambaran kekecewaan masyarakat yang berharap akses jalan mereka tidak terus-menerus menjadi persoalan tanpa kejelasan penyelesaian.
JANGAN BIARKAN MASYARAKAT TERUS MENUNGGU TANPA KEPASTIAN!
Pemerintah Kabupaten Sumba Timur perlu memberikan perhatian serius terhadap kondisi jalan Kukitalu–Maidang. Masyarakat membutuhkan jawaban yang jelas, bukan sekadar harapan yang terus berulang dari waktu ke waktu.
Jalan yang dirintis dengan panjang kurang lebih 15 kilometer itu memiliki arti penting bagi konektivitas wilayah. Akses tersebut diharapkan dapat mempersingkat perjalanan dari ibu kota Kabupaten Sumba Timur menuju Kecamatan Tabundung dan Kecamatan Pinupahar, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi serta mempermudah masyarakat menjangkau pelayanan publik.
Jika pembangunan belum dapat dilanjutkan, pemerintah perlu menjelaskan apa kendalanya. Apakah persoalannya berkaitan dengan anggaran, perencanaan teknis, status jalan, atau faktor lainnya? Penjelasan terbuka sangat diperlukan agar masyarakat mengetahui alasan di balik belum tuntasnya akses yang mereka harapkan.
Brantas Tipikor New memandang persoalan ini layak menjadi perhatian pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Sumba Timur. Peninjauan langsung ke lapangan serta penjelasan mengenai status dan rencana pembangunan jalan tersebut diperlukan untuk memastikan aspirasi masyarakat tidak berhenti sebatas keluhan.
jangan sampai jalan yang telah dirintis sejak 2003–2004 hanya menjadi catatan sejarah tanpa manfaat nyata bagi masyarakat.
Masyarakat Desa Kukitalu dan Desa Maidang berhak menyampaikan aspirasi dan memperoleh penjelasan mengenai pembangunan infrastruktur yang menyangkut kebutuhan mereka. Mereka tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya mengharapkan akses yang layak, perhatian pemerintah, dan kepastian bahwa jalan yang pernah dirintis itu tidak ditinggalkan begitu saja.
Kini, pertanyaan masyarakat kembali diarahkan kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dan DPRD:
kapan jalan kukitalu–maidang akan ditangani secara serius? apa kendala yang membuat pembangunannya belum tuntas? dan kapan masyarakat dapat memperoleh kepastian?
Pertanyaan-pertanyaan itu patut dijawab secara terbuka dan bertanggung jawab.
Brantas Tipikor New akan terus mengangkat aspirasi masyarakat agar persoalan akses jalan Kukitalu–Maidang mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Pembangunan harus dirasakan masyarakat, bukan sekadar menjadi rencana yang terus dinantikan.
Masyarakat sudah terlalu lama menunggu. Kini, yang dibutuhkan bukan sekadar janji, melainkan penjelasan yang terbuka, perencanaan yang jelas, dan langkah nyata sesuai kemampuan serta ketentuan anggaran pemerintah.
Jalan Kukitalu–Maidang: rintisan telah ada, harapan masih hidup, tetapi kepastian pembangunan tetap dinantikan.
BRANTAS TIPIKOR NEW — Mengangkat suara masyarakat, mengawal transparansi, dan mendorong pembangunan yang berpihak kepada kepentingan rakyat.
Piter Kabiro Sumba Timur






