SUMBA TIMUR, NTT — BTN 08/08/2026-Malang tak dapat ditolak, niat hati berobat demi menyambung asa kehidupan justru berujung pada penderitaan fisik yang memilukan. Paulus Bali Mema, seorang warga asal Kodi yang jauh-jauhi datang ke Waingapu untuk menjalani perawatan medis cuci darah di RSUD Umbu Rara Meha, terpaksa harus terbaring lesu menahan rasa sakit ganda. Ia diduga menjadi korban aksi kekerasan dan pengeroyokan oleh orang tidak dikenal di kawasan kos-kosan, persis di depan Pasar Inpres Km 4, Kelurahan Kambajawa, Kecamatan Kota Waingapu, pada Sabtu dini hari (07/08/2026) sekitar pukul 02.00 WITA.
Insiden berdarah yang menimpa pasien berpenyakit kronis ini tidak hanya menyisakan luka fisik memar di area mata dan kepala korban, tetapi juga menyulut preseden buruk terkait jaminan keamanan di pusat kota Waingapu. Paulus, yang datang dari jauh tanpa membawa dendam maupun persoalan pribadi, mengaku terpukul atas tindakan brutal yang menimpanya secara tiba-tiba saat dirinya dalam kondisi fisik yang lemah.
”Saya ini sudah sakit sakitan, tambah lagi dipukul tanpa alasan. Saya tidak tahu apa salah saya sampai diperlakukan seperti ini,” ungkap Paulus dengan nada pilu saat dikonfirmasi wartawan mengenai peristiwa tragis yang menimpanya.
Persoalan ini kian memanas setelah penelusuran tim investigasi Berantastipikornews di sekitar lokasi kejadian, mengungkap dugaan bahwa Paulus bukanlah korban tunggal dari aksi kejahatan jalanan di kawasan tersebut. Berdasarkan keterangan sejumlah pedagang dan warga setempat, terdapat dua orang warga lainnya, yakni Ronal Pama Lero dan Hesron Lero, yang diduga turut mengalami tindakan kekerasan serupa di lokasi yang sama sebelum kejadian menimpa Paulus.
Beruntung bagi Ronal dan Hesron, cedera yang mereka alami hanya memerlukan penanganan rawat jalan. Namun bagi Paulus, hantaman keras fisik tersebut berdampak fatal lantaran bertabrakan langsung dengan kondisi penyakit bawaannya, sehingga memaksa korban harus menjalani perawatan rawat inap intensif sembari meratapi ketidakpastian hukum atas nasibnya.
Keberadaan korban lain serta kesamaan pola tempat kejadian perkara (TKP) ini memicu spekulasi mendasar di tengah masyarakat. Apakah ini tindakan premanisme terorganisir? Apakah ada korelasi antar-kejadian? Dan siapakah dalang di balik aksi liar yang meresahkan warga serta pengunjung pusat perbelanjaan tersebut?
Langkah cepat keluarga korban bersama insan pers mendatangi Markas Polres Sumba Timur guna mempertanyakan kejelasan penanganan laporan polisi yang telah dibuat. Pihak petugas piket SPKT Polres Sumba Timur mengonfirmasi bahwa laporan telah diterima dan meminta pihak keluarga untuk bersabar karena kasus ini diklaim sedang berada dalam tahap penyelidikan oleh tim penyidik.
Meskipun respons awal petugas kepolisian patut diapresiasi, sikap pasif dan imbauan sekedar “menunggu panggilan” jelas tidak cukup untuk mengobati rasa cemas korban dan masyarakat. Penanganan perkara yang menyangkut keselamatan jiwa rakyat tidak boleh tertahan pada tumpukan lembaran laporan di meja piket, atau menguap begitu saja di balik kalimat klise “masih dalam penyelidikan.”
Masyarakat kini menagih komitmen nyata serta ketegasan dari Kapolres Sumba Timur untuk mengawal penanganan kasus penganiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 351 KUHP ini agar berjalan secara terukur dan transparan. Pengumpulan saksi-saksi kunci di sekitar Pasar Inpres Km 4, penelusuran rekaman CCTV (jika ada), hingga visum et repertum korban harus segera dirampungkan guna mengidentifikasi serta memburu para pelaku.
Polisi dituntut bekerja presisi berdasarkan bukti-bukti material dan prosedur hukum yang berlaku, tanpa harus menunggu eskalasi desakan publik atau tekanan media. Lambatnya penanganan perkara pidana di lapangan hanya akan memberi ruang gerak bagi para pelaku kejahatan untuk melarikan diri dan mengulangi perbuatannya.
Kasus pemukulan terhadap pasien cuci darah ini bukan sekedar perkara kriminal biasa antara korban dan pelaku anonim, melainkan cermin dari pertaruhan rasa aman warga serta kualitas penegakan hukum di wilayah hukum Sumba Timur. Jika penanganan kasus ini menggantung tanpa kejelasan, maka bukan hanya keadilan bagi Paulus yang terabaikan, tetapi kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian yang akan runtuh.
Berantastipikornews.co.id secara konsisten mengawal dan mendesak jajaran Kepolisian Resor Sumba Timur untuk bertindak cepat, akuntabel, dan profesional dalam membongkar motif serta menangkap seluruh dalang penganiayaan ini. Publik dan keluarga korban tidak membutuhkan janji-janji manis manis di atas kertas,mereka membutuhkan bukti konkrit penegakan hukum demi tegaknya keadilan di bumi Sumba Timur.
Piter kabiro






