Bangkep,BTN Rabu 12 Agustus 2026 – Wajah dunia pendidikan di Kabupaten Banggai Kepulauan kembali tercoreng arang. Kali ini, dugaan kasus penganiayaan keji mengguncang SDN Sampekonan, Kecamatan Liang Tengah. Ironis, institusi yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk menimba ilmu justru berubah menjadi ‘medan penderitaan’ akibat ulah barbar seorang oknum guru yang seharusnya menjadi panutan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian kelam ini terjadi pada Selasa, 4 Agustus 2026 lalu. Tidak tanggung-tanggung, diperkirakan ada 8 orang siswa sekolah dasar tersebut yang menjadi korban dugaan ‘keganasan’ dan tindakan tidak manusiawi dari oknum pendidik yang kini dicap sebagian pihak dengan julukan ngeri, ‘guru pisikopat’. Tuduhan berat ini dialamatkan kepada seorang pendidik berinisial BAS.

​Sebuah foto yang kini beredar memotret pilu duka salah satu korban di SDN tersebut. Gambar yang amat menyayat hati itu memperlihatkan seorang bocah laki-laki yang masih mengenakan baju oranye, berdiri lunglai tanpa alas kaki. Di bawah kelopak mata kirinya, terlihat jelas bekas luka kemerahan yang mengerikan,sebuah stempel kekerasan yang tega ditorehkan oleh tangan yang seharusnya mengayunkan kapur di papan tulis.

​Luka fisik anak itu mungkin akan sembuh seiring berjalannya waktu, namun trauma psikologis yang menghantui delapan anak ini bisa jadi akan permanen. Bagaimana bisa, anak-anak sekecil itu dipaksa menghadapi ancaman fisik dan mental justru dari orang tua mereka di sekolah? Tidakkah sang oknum guru memikirkan dampak destruktif dari setiap pukulan atau tindakan kasarnya terhadap masa depan anak-anak ini? Tindakan ini adalah bentuk pengkhianatan paling hina terhadap profesi guru.

​Tragedi ini pun memantik api amarah dari tokoh masyarakat sekaligus mantan Ketua Dewan Bangkep, Risal Al Arwie. Dengan nada suara yang bergetar menahan geram, ia sangat menyayangkan kejadian memuakkan ini. “Ini sungguh tidak bisa diterima. Seharusnya, sebagai guru, tugas utamanya adalah mendidik, mengayuh dengan kasih sayang, bukan melakukan kekerasan seperti ini. Lihat sendiri dampaknya, sampai begini modelnya muka anak-anak itu, penuh luka! Ini bukan pendidikan, ini penyiksaan!” kecam Risal dengan nada tajam.

​Kritik tajam Risal Al Arwie seolah menampar keras sistem pengawasan di lingkungan pendidikan Bangkep. Bagaimana mungkin seorang guru dengan kecenderungan perilaku ‘pisikopat’,jika dugaan itu benar,bisa terus dibiarkan berinteraksi dan mengajar anak-anak tanpa adanya pengawasan yang memadai? Apakah pemerintah daerah dan dinas terkait baru akan terbangun dari tidurnya setelah ada korban jiwa yang jatuh?

​Kepala Dinas Pendidikan Bangkep,saat dimintai keterangan media ini,”Iya sdh pak. Hari ini kami panggil guru nya untuk di BAP, bersama kepsek dan komite sekolah Terimakasih infonya pak,tulis Kepala Dinas, terkait insiden berdarah di SDN Sampekonan ini. Meskipun demikian, media ini akan tetap berusaha mengumpulkan informasi dan keterangan lebih lanjut untuk mengungkap fakta di balik dugaan penganiayaan massal ini.

​Sementara itu, baik oknum guru berinisial BAS maupun kepala sekolah SDN Sampekonan, hingga detik ini, belum bisa dihubungi melalui telepon seluler mereka untuk dimintai konfirmasi. Ketiadaan respons ini justru semakin menebalkan kabut misteri dan kekhawatiran masyarakat akan adanya upaya untuk menutup-nutupi kasus ini. Publik berhak mendapatkan transparansi dan keadilan secepat mungkin.

​Kasus ini tidak boleh hanya berakhir sebagai tumpukan laporan di atas meja atau menguap begitu saja seiring berjalannya waktu. Harus ada tindakan tegas, sanksi administratif berat, dan proses hukum yang adil terhadap pelaku jika terbukti bersalah. Jangan biarkan anak-anak kita terus menjadi sasaran kekejaman di tempat yang seharusnya menjadi surga ilmu mereka,masyarakat dan pemerintah bertanggung jawab penuh untuk mengembalikan senyum mereka serta memastikan sekolah kembali menjadi tempat yang aman.

Red