BATAM, BTN 09/01/2026 – Genderang perang melawan rokok ilegal yang ditabuh Pemerintah Pusat melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tampaknya hanya dianggap angin lalu oleh mafia rokok di Kota Batam. Buktinya, rokok ilegal merk PSG kini kian jemawa, mendominasi etalase bawah meja di hampir seluruh kios tanpa tersentuh hukum secara signifikan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Publik patut bertanya,Ada apa dengan penegakan hukum di Kepri? Sementara di Pekanbaru Bea Cukai pamer keberhasilan menggulung gudang bernilai Rp300 miliar, di Batam, rokok merk PSG justru makin menggurita.

​Meski sempat ada penangkapan pada Desember 2025 lalu, operasi tersebut nyatanya tak lebih dari sekedar “obat nyamuk”. Jaringan distribusi PSG tetap berjalan mulus, seolah-olah penangkapan kemarin hanyalah pengorbanan kecil demi mengamankan jalur yang lebih besar. Siapa sebenarnya sosok sakti di balik merk PSG ini hingga seolah kebal hukum?

​Investigasi tim Berantastipikornews di kawasan Pasar Jodoh dan sekitarnya menemukan fakta miris. Para pedagang kecil dijadikan “benteng” oleh distributor dengan sistem konsinyasi (laku baru bayar).

​”Kami cuma pion, Bang. Barang diantar, laku baru setor. Yang kami takutkan razia ke kami, sementara yang punya barang (distributor besar) aman-aman saja di sana,” ketus salah satu pemilik kios yang meminta identitasnya dirahasiakan.

​Modus perdagangan tersembunyi ini sudah menjadi rahasia umum. Namun, pertanyaannya, sejauh mana intelijen Bea Cukai bekerja? Jika pedagang kecil saja tahu siapa yang menyuplai barang, mengapa otoritas berwenang seolah kesulitan melacak sang aktor intelektual?

​Pernyataan tegas Dirjen Bea dan Cukai, Letjen Djaka Budhi Utama, yang berjanji menelusuri jaringan hingga ke pihak paling bertanggung jawab kini ditunggu realisasinya di Kepulauan Riau. Publik tidak butuh sekedar konferensi pers dan pemusnahan barang bukti yang itu-itu saja.

​Rokok PSG bukan sekedar masalah cukai, ini adalah bentuk pelecehan terhadap kedaulatan ekonomi negara. Jika merk ini tetap mendominasi pasar hingga menembus daratan Sumatra tanpa ada otak pelaku yang diseret ke meja hijau, maka wajar jika muncul mosi tidak percaya,Apakah aparat memang tidak mampu, atau justru terjebak dalam lingkaran ‘main mata’ dengan pengusaha hitam?

​Hingga saat ini, tim redaksi masih terus menguliti siapa sosok di balik layar yang mengendalikan peredaran PSG. Perang ini tidak boleh berhenti di level pengecer; otak penyelundupan harus segera diborgol!

​(Red/Siska)