BANGGAI, BTN 18/07/2026— Sektor pertanian yang digadang-gadang sebagai pilar utama ketahanan pangan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, justru berada dalam kondisi lampu kuning. Puluhan hektar sawah siap panen di wilayah MPP Luwuk Timur dilaporkan gagal total (puso) massal pada Sabtu (18/7/2026). Ironisnya, bencana pangan ini terjadi di tengah jeritan petani yang merasa “dianaktirikan” akibat minimnya kehadiran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan kacaunya distribusi sarana produksi pertanian.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Berdasarkan investigasi lapangan Media Berantastipikornews, petaka pertanian ini melanda sedikitnya 30 hektar lahan produktif yang tersebar di Dusun 2 Baya dan Dusun 3 Uwedikan. Serangan masif hama tikus yang tak terkendali, diperparah oleh kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi dan benih padi unggul, menjadi kombinasi maut yang menyapu bersih harapan para petani untuk meraup untung musim ini.

​Kerugian materiil yang diderita para petani tidak main-main, yakni mencapai rata-rata Rp8 juta per hektar. Sunardi, seorang petani dari Dusun 2 Baya yang menggarap 5 hektar sawah, mengaku seluruh modal dan tenaganya habis tak tersisa. Kerugiannya menembus puluhan juta rupiah, membuat dapur keluarganya kini terancam tidak bisa mengepul akibat kegagalan total sistem proteksi hama di wilayah tersebut.

​”Kami terus terang rugi besar musim ini. Kerugian ditaksir sekitar Rp8 juta per hektar, saya sendiri rugi puluhan juta. Selain diserang hama tikus, kami juga kesulitan BBM jenis solar dan benih padi unggul. Dua hal itu yang bikin kami terhambat untuk langsung olah lahan lagi,” ujar Sunardi dengan nada bergetar saat ditemui di lokasi, Sabtu (18/7/2026).

​Kondisi yang sama juga menimpa Marto, petani dari Dusun 3 Uwedikan, yang terpaksa gigit jari melihat dua hektar sawahnya luluh lantak dimakan hama tikus tanpa sisa. Ia mengaku bingung dan frustrasi karena modal untuk memulai kembali penanaman berikutnya sudah terkuras habis, sementara pemerintah terkesan lamban mengulurkan tangan.

​”Saya rugi sekitar Rp8 juta per hektar karena habis dimakan tikus. Sekarang mau tanam lagi bingung. Benih susah, solar untuk traktor juga susah. Kami butuh bantuan nyata, bukan sekedar janji-janji di atas kertas,” ketus Marto.

​Kedua petani senior tersebut mengonfirmasi bahwa serangan hama tahun ini merupakan yang paling parah dan destruktif dalam tiga musim tanam terakhir. Mereka menyayangkan sikap otoritas terkait yang seolah baru terbangun dari tidur ketika kerusakan sudah masif dan siklus tanam berikutnya telanjur terancam gagal total.

​Kritik pedas pun langsung diarahkan kepada kinerja PPL dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Luwuk Timur yang dinilai mandul serta jarang turun ke lapangan saat petani membutuhkan bimbingan preventif. Petani menilai, fungsi penyuluhan baru terasa setelah nasi menjadi bubur,saat sawah telanjur puso.

​”Di mana peran aktif penyuluh pertanian di Luwuk Timur? Kami butuh solusi terbaik untuk pencegahan hama tikus sebelum menyerang, bukan setelah semuanya hancur! Kami butuh bimbingan dan arahan nyata dari UPT Luwuk Timur agar kejadian memilukan ini tidak terus terulang,” tegas Sunardi berapi-api.

​Merespons gelombang protes dan kritik tajam tersebut, Koordinator PPL UPT Luwuk Timur, Okta, buru-buru angkat bicara dan memberikan pembelaan. Ia mengklaim bahwa pihaknya tidak tinggal diam dan telah melakukan upaya administratif terkait karut-marutnya distribusi solar subsidi bagi para petani.

​”Kami sudah berupaya terkait barcode solar subsidi untuk petani. Daftar nama-nama petani sudah kami kirim. Untuk kasus gagal panen di wilayah MPP Luwuk Timur ini, juga sudah kami laporkan secara resmi ke Dinas Pertanian Kabupaten Banggai,” jelas Okta mencoba meyakinkan.

​Melihat kondisi darurat yang menimpa petani bawah, Ketua KTNA Kabupaten Banggai, Irwanto Kulap, S.P., langsung bereaksi keras dan berjanji akan segera mengintervensi masalah ini ke tingkat yang lebih tinggi. Pihaknya menegaskan bahwa langkah penyelamatan harus segera dilakukan agar wabah hama merusak ini tidak meluas ke wilayah pertanian lain.

​”Insya Allah hal ini secepatnya akan kami sampaikan ke Dinas TPHP baik kabupaten maupun provinsi supaya secepatnya dilakukan antisipasi dalam rangka penanggulangan hama tikus jangan sampai meluas. Serta memikirkan terkait kerugian petani tersebut, di antaranya kami akan menyampaikan untuk mereka bisa mendapatkan bantuan benih dan pupuk agar mereka bisa bercocok tanam di musim tanam berikutnya,” tegas Irwanto Kulap saat dikonfirmasi melalui perwakilan KTNA, Salman Sulaiman, SH.

​Kendati telah ada lampu hijau dari KTNA dan PPL, para petani menilai penanganan birokrasi yang berbelit-belit ini membuktikan lambatnya respons pemerintah daerah dalam memitigasi krisis pangan di tingkat tapak. Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banggai belum memberikan keterangan resmi maupun solusi konkret jangka panjang terkait bantuan benih dan subsidi solar bagi para petani yang sedang sekarat.

​Media Berantastipikornews

Jurnalis: Amri

Luwuk, 18 Juli 2026