Banggai Kepulauan, BTN – Praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, dilaporkan telah mencapai taraf yang terang-terangan dan memicu kemarahan publik. 15/09/2025

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Fenomena ini, yang kini menjadi tontonan publik, diduga kuat melibatkan sindikat mafia BBM yang bebas beroperasi tanpa intervensi. Di tengah antrean panjang dan penderitaan masyarakat, dugaan pembiaran oleh pihak berwenang memantik pertanyaan tajam tentang integritas dan komitmen para pemimpin.

Pertanyaan besar kini ditujukan kepada Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan. Di manakah mereka di saat rakyat menjerit? Apakah kekuasaan telah membuat mereka tuli dan buta terhadap penderitaan yang terjadi di depan mata?

Sikap diam ini juga mencoreng citra DPRD Bangkep, yang dianggap telah menggadaikan fungsi pengawasan dan suara nurani rakyat yang seharusnya mereka wakili.

Kritik pedas juga mengarah pada Polres Banggai Kepulauan. Masyarakat bertanya-tanya, apakah hukum hanya berlaku bagi pedagang kecil, sementara mafia dan elit leluasa bermain dengan BBM bersubsidi?

Jika demikian, anggapan bahwa hukum di negeri ini tajam ke bawah dan tumpul ke atas semakin menemukan kebenarannya. Masyarakat menuntut jawaban atas kelalaian, keabaian, dan sikap seolah tak peduli yang ditunjukkan oleh aparat penegak hukum.

Rakyat Banggai Kepulauan telah sampai pada titik di mana kekecewaan berubah menjadi kemarahan. Mereka merasa dikhianati, tidak hanya hak mereka atas BBM subsidi, tetapi juga martabat dan rasa keadilan.

Pemkab, DPRD, dan Polres Bangkep harus menyadari bahwa sikap diam mereka adalah pengkhianatan terhadap sumpah jabatan dan amanah rakyat.

Jangan salahkan rakyat jika kepercayaan mereka runtuh, sebab sikap abai dan tutup mata para pejabat serta aparat telah menumbuhsuburkan ketidakadilan.

Rakyat menuntut tindakan nyata, bukan sekadar janji kosong atau alasan basi. Jika pembiaran ini terus berlanjut, sejarah akan mencatat bahwa lembaga-lembaga ini pernah menjadi simbol ketidakpedulian, pengabaian, dan kekuasaan yang mengorbankan rakyat demi kepentingan segelintir mafia.

Pesan tegas dari masyarakat Banggai Kepulauan sangat jelas: “Tunduk tertindas atau bangkit melawan, karena diam adalah pengkhianatan.” Mereka tidak akan lagi membiarkan martabat mereka diinjak-injak oleh ketidakadilan yang merajalela.