TAMBOLAKA, BTN — Suasana di salah satu kios pertanian di Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), mendadak riuh belum lama ini. Seorang konsumen melancarkan protes keras kepada pemilik kios setelah dedak padi atau yang dikenal warga setempat sebagai pau yang dibelinya ditolak mentah-mentah oleh kuda peliharaannya. Sang pembeli sempat bersitegang dan menuding bahwa dedak tersebut telah dicampur dengan serbuk kayu tiruan. 14/10/2026
Perdebatan sengit antara pembeli dan pemilik kios ini sontak menarik perhatian warga sekitar. Penjual kios merasa tidak terima dengan tuduhan tersebut karena pasokan dedak yang mereka jual diambil langsung dalam kondisi murni dari tempat penggilingan padi resmi. Di tengah ketegangan tersebut, Kepala Biro BerantasTipikorNews.co.id yang juga bertindak sebagai Agen 002 NTT kebetulan berada di lokasi dan langsung turun tangan untuk melerai serta meluruskan duduk perkara.
Dalam mediasi di lokasi, Kepala Biro BerantasTipikorNews.co.id mengajak masyarakat, khususnya para peternak di wilayah Sumba Barat Daya, untuk berpikir jernih dan memahami karakteristik biologis hewan ternak. Ia menegaskan bahwa akar persoalan ini bukan terletak pada kualitas pakan yang dijual oleh kios, melainkan pada kekeliruan pemahaman mendasar mengenai jenis makanan yang sesuai bagi masing-masing hewan.
Poin utama yang ditekankan adalah bahwa pau atau dedak padi sejak lama diformulasikan dan diperuntukkan sebagai makanan pokok ternak babi, bukan untuk kuda. Oleh karena itu, penolakan yang ditunjukkan oleh kuda peliharaan terhadap dedak tersebut merupakan sebuah kewajaran biologis, alih-alih indikasi adanya bahan campuran yang merugikan.
Lebih lanjut, penjelasan edukatif disampaikan mengenai anatomi dan sistem pencernaan hewan. Kuda merupakan hewan herbivora murni yang dirancang secara alami untuk mencerna serat kasar dari rumput, dedaunan hijau, dan jerami. Saluran pencernaan kuda tidak cocok untuk mengonsumsi dedak padi yang bertekstur halus dan padat nutrisi hewani/babi.
Berdasarkan naluri alaminya, kuda memang akan menolak pakan yang tidak sesuai dengan insting herbivoranya. Pemilik ternak diingatkan agar tidak serta-merta memaksakan kuda untuk mengonsumsi dedak padi, apalagi langsung melampiaskan kekecewaan kepada pihak pedagang kios tanpa dasar ilmiah yang kuat.
Untuk meredakan keraguan konsumen, Kepala Biro BerantasTipikorNews.co.id juga memaparkan cara praktis membedakan dedak padi murni dengan dedak yang diduga dicampur serbuk kayu. Dedak murni umumnya memiliki warna kecoklatan agak kekuningan, beraroma wangi khas padi, bertekstur halus serta berminyak, dan akan terasa agak lengket saat dikepal dengan tangan.
Sebaliknya, dedak yang tercemar serbuk kayu biasanya berwarna lebih pucat atau keputihan, berbau khas kayu, bertekstur kasar, tidak berminyak, serta cenderung mengambang ketika dimasukkan ke dalam air. Kendati demikian, ia kembali menegaskan agar masyarakat tidak gegabah menuduh kios melakukan kecurangan sebelum melakukan pengecekan objektif.
Melihat insiden ini, pesan penting disampaikan kepada seluruh peternak di Sumba Barat Daya agar lebih teliti dalam mengelompokkan jenis pakan. Untuk ternak seperti kuda, sapi, kerbau, dan kambing, pakan utamanya wajib berupa hijauan seperti rumput, lamtoro, daun gamal, atau jerami yang kaya serat kasar.
Sementara itu, pakan berupa dedak atau pau sebaiknya dialokasikan secara khusus untuk ternak babi yang memang menyukai jenis pakan tersebut, dipadukan dengan sisa makanan rumah tangga atau umbi-umbian. Apabila peternak ingin memberikan tambahan nutrisi khusus bagi kuda selain rumput, disarankan menggunakan konsentrat khusus kuda atau jagung giling, bukan dedak halus.
Menutup keterangannya, peristiwa ini dipandang sebagai momentum penting bagi instansi terkait, khususnya Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Barat Daya, untuk lebih intensif menggalakkan edukasi pakan ternak. Langkah penyuluhan yang masif di tengah masyarakat diyakini mampu mencegah kesalahpahaman serupa di masa mendatang, sehingga hubungan harmonis antara konsumen dan pelaku usaha di Tambolaka tetap terjaga dengan baik.






