BANGGAI LAUT –BTN 11/03/2026- Aroma busuk dugaan penyelewengan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di SPBU 76.94811 Desa Paisulamo, Kecamatan Labobo, kian menyengat. Betapa tidak, pasokan yang disinyalir mencapai 25 ton per satu kali masuk, raib secara misterius dalam waktu singkat. Akibatnya, warga lokal harus gigit jari karena stok selalu dinyatakan “kosong” saat hendak mengisi kendaraan pribadi.
Fenomena “habis stok” yang tidak masuk akal ini memicu kemarahan publik di media sosial. Berdasarkan pantauan tim redaksi, masyarakat mulai mencium adanya praktik penimbunan yang dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang diduga bekerja sama dengan pihak pengelola SPBU.
Informasi yang dihimpun dari kesaksian warga mengungkap fakta mengejutkan. Diduga kuat, BBM bersubsidi yang seharusnya menjadi hak masyarakat kecil justru dialirkan ke para “mafia minyak” dan pengusaha luar melalui pengisian jerigen secara masif.
Salah satu warga, melalui komentar publiknya menyebutkan adanya dugaan keterlibatan oknum tertentu yang memiliki “jatah” hingga 5 ton sekali muat. “Kalau saya amati, bukan cuma di Bangkurung, di Labobo juga ada mafia. Ada yang punya jatah bensin sekali muat sampai 5 ton,” ungkapnya dengan nada geram.
Senada dengan itu, tokoh masyarakat lainnya, menegaskan bahwa secara kalkulasi, tidak mungkin stok puluhan ton habis dalam waktu singkat jika hanya melayani kendaraan masyarakat setempat. “Pertanyaannya, kenapa tidak cukup? Berarti ada apa? Jangan sampai masyarakat sudah jengkel akhirnya ribut,” tegasnya dalam unggahan yang viral.
Kritik tajam juga mengarah pada lemahnya pengawasan dari Pemerintah Daerah dan aparat penegak hukum (APH). Masyarakat menilai, program “BBM Satu Harga” yang dicanangkan pemerintah pusat kini hanya menjadi slogan tanpa makna di Labobo. Harga di tingkat pengecer justru melonjak tajam karena kelangkaan buatan di SPBU.
”Di negeri kita ini, aparat dan pemerintah seolah tidak berfungsi. Persoalan SPBU ini sudah lama dimainkan mafia, tapi mereka (pihak berwenang) cuma jadi penonton,” tulis Mahyudin Supu, seorang netizen yang menyuarakan keresahan warga.
Melihat kondisi yang kian memanas, masyarakat mendesak Polda Sulawesi Tengah untuk segera turun tangan melakukan sidak dan penyelidikan menyeluruh di SPBU 76.94811 Paisulamo. Rakyat meminta transparansi manifest pengiriman BBM dan audit terhadap sirkulasi keluar-masuk stok di SPBU tersebut.
Jika praktik “penjualan di bawah meja” ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin gejolak sosial akan meledak. Publik kini menunggu keberanian institusi Polri untuk memberantas mafia BBM yang telah merampok hak rakyat kecil di pelosok Labobo.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak pengelola SPBU Paisulamo terkait tudingan miring masyarakat tersebut.
Redaksi






