MUSI RAWAS, SUMSEL, BTN – Praktik kotor penimbunan BBM bersubsidi jenis Solar di SPBU 24-316 93 Terawas (Bukit Beton) kian terang-terangan. Meski kemacetan di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) sudah menjadi “sajian” harian akibat antrean kendaraan yang mencurigakan, aparat penegak hukum (APH) dituding menutup mata dan seolah menjadi “macan ompong” di hadapan mafia BBM. 09/02/2026
Kabiro Cakra Buana Muratara, M. Sunandi, mengungkapkan bahwa SPBU tersebut diduga kuat menjadi pusat penyelewengan Solar subsidi dengan modus penggunaan barcode (barkot) yang disalahgunakan. Ratusan kendaraan mengantre 24 jam penuh, namun bukan kendaraan umum yang mengisi, melainkan gerombolan truk yang itu-itu saja.
Lihat saja, truk yang mengantre rata-rata kosong, bahkan ada truk tanpa bak. Mereka mengantre dari pagi sampai pagi lagi. Ini jelas bukan pengisian biasa, tapi aktivitas ‘kencing’ solar secara masif yang membuat pengendara lain gigit jari,” tegas Sunandi, Minggu (08/02/2026).
Akibat praktik ini, Jalinsum kerap lumpuh akibat kemacetan panjang, sementara rakyat kecil yang benar-benar membutuhkan solar subsidi dipaksa pulang dengan tangki kosong.
Ketajaman investigasi media justru disambut dengan nada ancaman. Seseorang bernama LAN, yang mengaku sebagai penjaga keamanan di SPBU Terawas, secara terang-terangan menantang wartawan. Dengan bahasa daerah yang kental, ia memperingatkan agar media jangan “mengganggu” bisnis di SPBU tersebut.
Jangan nak nganggu SPBU Terawas, cari yang lain bae. Itu piring nasi aku, jangan dipecah kalau aku tidak makan,” ancam LAN.
Tak hanya itu, LAN juga membawa-bawa sosok “Kakak” yang ia klaim sebagai penjaga utama SPBU tersebut, sembari melontarkan ancaman fisik yang mengintimidasi kerja jurnalistik. Ia bahkan memperingatkan media agar tidak menemui manajer jika tidak ingin terjadi keributan fatal. “Daripada hidup, lebih baik mati,” cetusnya, menggambarkan betapa nekatnya pihak pengamanan SPBU dalam menjaga praktik tersebut.
Ironi semakin dalam ketika keterlibatan oknum aparat mulai terendus. M. Zakir, yang disebut sebagai anggota Brimob yang bertugas mengamankan SPBU Terawas, tidak bisa memberikan penjelasan banyak saat dikonfirmasi. Dengan alasan sedang sakit cacar, ia enggan menanggapi dugaan penyelewengan yang terjadi di depan matanya.
Sikap diamnya manajer SPBU 24-316 93 Terawas hingga berita ini diturunkan semakin memperkuat dugaan adanya konspirasi terstruktur antara pengelola, oknum aparat, dan preman lokal.
Kasus SPBU Bukit Beton bukan lagi sekedar soal antrean macet, tapi soal kedaulatan energi rakyat yang dirampas oleh premanisme dan mafia. Masyarakat kini menanti keberanian Kapolda Sumatera Selatan untuk menyapu bersih praktik ilegal ini. Apakah hukum akan tegak, atau justru kalah oleh gertakan preman di pinggir jalan?
Tim Redaksi / Cakra Buana






