WAINGAPU, BTN – 13/05/2026, Sumba Timur kembali berduka. Di balik keelokan alam Kecamatan Paberiwai, tersimpan sebuah nestapa yang mengoyak nalar kemanusiaan. Seorang remaja perempuan berusia 15 tahun dipaksa menelan pil pahit kehidupan setelah menjadi budak nafsu ayah kandungnya sendiri sejak tahun 2023.
Rumah yang Menjadi Neraka
Alih-alih menjadi benteng perlindungan, rumah bagi korban justru berubah menjadi neraka dunia. Pelaku yang diketahui merupakan seorang residivis, diduga tidak hanya merenggut kesucian darah dagingnya sendiri, tetapi juga merenggut keberanian korban melalui ancaman pembunuhan. Selama bertahun-tahun, korban terbungkam dalam ketakutan ekstrem hingga kini ia harus menanggung beban kehamilan di usia yang masih sangat belia.
Kepekaan Guru: Cahaya di Tengah Kegelapan
Dinding kebisuan ini akhirnya runtuh berkat ketajaman nurani para guru di sekolah korban. Pihak sekolah yang mencium adanya perubahan fisik dan tekanan psikis yang hebat pada korban menolak untuk berpaling muka.
“Kami tidak bisa tinggal diam. Anak ini hancur, dan sekolah punya tanggung jawab moral untuk memulihkannya. Ini bukan sekedar tugas mengajar, ini soal menyelamatkan satu nyawa,” tegas salah satu guru kepada media BTN.
Pesan Menohok Pendamping: “Berhenti Lindungi Penjahat!”
Rambu Dai Mami, pendamping korban yang dikenal vokal, memberikan tamparan keras bagi masyarakat yang masih sering menganggap kekerasan seksual dalam keluarga sebagai aib yang harus ditutupi.
“Jangan jadi pengecut dengan dalih menjaga nama baik keluarga! Diamnya Anda adalah bensin bagi kejahatan ini. Siapa pun yang tahu dan memilih bungkam, Anda sedang membantu pelaku menghancurkan masa depan anak ini,” ujar Rambu dengan nada bicara yang tajam.
Tuntutan Publik: Hukum Mati atau Kebiri!
Kasus ini kini telah resmi bergulir di Polres Sumba Timur. Masyarakat tidak hanya meminta proses hukum biasa; mereka menuntut:
Ketegasan Maksimal: Mengingat pelaku adalah residivis dan ayah kandung, hukuman harus diperberat sesuai UU Perlindungan Anak.
Transparansi Total: Publik akan mengawal kasus ini hingga pelaku mendekam di balik jeruji besi tanpa celah kompromi.
Pemulihan Trauma: Mendesak pemerintah daerah menjamin perlindungan fisik dan psikis bagi korban dan bayinya.
Anak-anak adalah masa depan, bukan tempat pelampiasan nafsu binatang berbaju manusia. Sumba Timur harus bangun. Tidak ada ruang bagi predator anak, apalagi yang berlindung di balik status “orang tua”.






