HAMBAPRAING, SUMBA TIMUR, BTN – Di tengah isu krisis pangan dan keluhan soal lahan kering, Kelompok Tani (Poktan) Lataluri di Desa Hambapraing, Kecamatan Kanatang, justru memberikan “kuliah lapangan” bagi para petani dan pemangku kebijakan. Minggu (10/5/2026), mereka membuktikan taji dengan melakukan panen raya bawang merah varietas unggul di musim hujan—sebuah tantangan yang biasanya dihindari petani konvensional.
Mandiri di Atas Kaki Sendiri: Lawan Mentalitas “Tidur dan Minta”
Ketua Kelompok Tani Lataluri, Fransiskus Pengasisi, SST, tidak menahan diri saat melontarkan kritik terhadap fenomena petani yang hanya berharap pada uluran tangan pemerintah. Baginya, keberhasilan lahan seluas 2,08 hektare yang dikelola kelompoknya adalah hasil keringat, bukan sekedar proposal bantuan.
“Ini bukti nyata! Petani Sumba Timur bisa maju kalau mau kerja keras. Jangan hanya tidur, pasrah pada nasib, dan berharap bantuan turun dari langit. Pertanian itu butuh keseriusan, bukan sekedar seremoni,” tegas Fransiskus dengan nada bicara yang meledak-ledak kepada media BTN.
Inovasi Melawan Arus: Bawang Merdeka F1
Kelompok Lataluri tidak sekedar menanam. Mereka melakukan terobosan dengan membudidayakan Bawang Merdeka F1 yang ditanam melalui biji, bukan umbi konvensional. Meski ditanam di tengah musim hujan (14-15 Januari 2026) yang memiliki risiko gagal panen tinggi, ketekunan mereka membuahkan hasil manis di luas lahan 75 are.
Selain bawang, diversifikasi lahan dilakukan secara agresif:
75 Are: Bawang Merdeka F1 (Utama)
10 Are: Sereh Wangi
5 Are: Kelor & Pepaya
Sisa Lahan: Lombok dan tanaman hortikultura lainnya.
Sentilan untuk Pemerintah: Mana Alat dan Sarana?
Meskipun tampil mandiri, Lataluri tetap mengirimkan pesan pedas kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, khususnya Dinas Pertanian. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan ini harusnya menjadi indikator bagi pemerintah untuk tidak salah sasaran dalam memberikan dukungan.
Fransiskus meminta pemerintah tidak menutup mata terhadap kelompok yang sudah terbukti produktif. Mereka membutuhkan dukungan alat dan sarana pertanian (Alsintan) yang nyata untuk mendongkrak produksi ke skala yang lebih besar, bukan sekedar janji di atas kertas.
Contoh Nyata, Bukan Teori
Hambapraing kini memiliki 10 kelompok tani aktif, termasuk kelompok tani wanita. Kehadiran mereka seolah menampar narasi bahwa lahan Sumba Timur tidak produktif. Lataluri telah menunjukkan bahwa dengan pola tanam yang tepat dan mentalitas petarung, sektor pertanian adalah tambang emas yang tersembunyi.
“Kelompok Tani Lataluri adalah contoh nyata. Kalau mau maju, kerja keras dan manfaatkan lahan. Kalau tidak, siap-siap saja tertinggal dan menjadi penonton di tanah sendiri,” pungkas Fransiskus menutup pernyataannya.






