Scroll Untuk Lanjut Membaca

SUKABUMI, BTN — Sebuah ironi pahit terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Raya, bocah berusia 3 tahun, meninggal dunia pada Selasa (19/8/2025) setelah tubuhnya dipenuhi cacing, sebuah tragedi yang membuka mata publik terhadap penderitaan yang masih tersembunyi, bahkan di tengah maraknya aksi kemanusiaan yang dipimpin oleh Gubernur Dedi Mulyadi.

Raya hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Ibunya menderita gangguan kejiwaan dan ayahnya mengidap TBC, membuatnya tak berdaya untuk merawat sang anak. Setiap hari, Raya kecil bermain tanpa pengawasan di kolong rumah panggung yang kotor dan dipenuhi kotoran ayam.

Lingkungan kotor inilah yang menjadi sumber petaka. Jari-jari mungilnya yang sering menyentuh tanah kotor, tak sempat dibersihkan sebelum masuk ke mulutnya.

Penderitaannya memuncak pada Minggu (17/8/2025), saat tubuhnya mulai melemah. Perutnya membuncit, dan pada hari berikutnya, cacing mulai keluar dari tubuhnya. Tragisnya, Raya menghembuskan napas terakhirnya di dini hari, sendirian dan tanpa sempat merasakan kasih sayang yang layak.

Kemarahan Gubernur, Pertanyaan untuk Kita Semua
Berita kematian Raya menyentuh hati banyak orang, termasuk Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Melalui akun Instagram resminya, ia menyampaikan belasungkawa sekaligus mengecam keras kelalaian yang terjadi.

“Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa hidup dalam kondisi seperti ini tanpa ada yang menolong? Saya tidak akan tinggal diam. Perangkat desa, PKK, Posyandu—semua harus bertanggung jawab,” tulisnya.

Namun, kemarahan ini juga memicu pertanyaan: di tengah banyaknya bantuan yang digalakkan, mengapa masih ada rakyat kecil yang terlewatkan dan menderita hingga tewas?

Jawa Barat Tersentak
Kepergian Raya adalah tamparan keras bagi semua pihak. Desa, yang seharusnya menjadi pelindung utama, terbukti abai. Posyandu, yang semestinya menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyakit, gagal menjalankan perannya.

Kini, jasad Raya telah beristirahat, namun kematiannya menyisakan pertanyaan: berapa banyak lagi anak-anak miskin yang bernasib sama dengan Raya, yang penderitaannya tak pernah terdengar?

Tragedi ini menjadi pengingat pedih tentang rapuhnya perlindungan bagi anak-anak di pedesaan. Tangis Raya adalah jeritan yang menyerukan agar kita semua tidak lagi menutup mata terhadap penderitaan warga yang paling kecil dan paling lemah.

Ini adalah panggilan untuk bertindak, agar tidak ada lagi anak yang harus mengalami nasib tragis seperti Raya.