Scroll Untuk Lanjut Membaca

​SALAKAN, BTN – Pertanyaan mengenai apakah Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) sedang menghadapi krisis lapangan pekerjaan akhir-akhir ini mulai jamak terdengar di tengah masyarakat. Namun, benarkah daerah berjuluk Tanah Peling ini sedang berada dalam bayang-bayang kelangkaan kerja? 28/05/2026

​Merespons dinamika tersebut, analisis proyeksi indikator makro terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan gambaran yang cukup mengejutkan sekaligus menarik untuk dibedah secara mendalam.

​Secara umum, potret ketenagakerjaan di daerah penghasil ubi banggai ini menunjukkan karakteristik yang sangat unik. Berbeda dengan wilayah perkotaan lain di Sulawesi Tengah yang jamak mengandalkan industri manufaktur atau kantoran, mayoritas angkatan kerja di Bangkep justru bertumpu kuat pada sektor informal dan usaha mandiri. Fenomena ini sekaligus menjadi indikator nyata bahwa sektor formal pemerintahan maupun industri besar di Bangkep memiliki daya serap yang sangat terbatas.

​Menghitung Riil Angkatan Kerja Bangkep

​Berdasarkan data sektoral terbaru, total Penduduk Usia Kerja (PUK)—yaitu seluruh warga yang telah berumur 15 tahun ke atas—di Bangkep berada di kisaran 85.000 hingga 90.000 jiwa.

​Setelah disaring dengan mengeluarkan kelompok Bukan Angkatan Kerja (seperti pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, serta kalangan lansia non-produktif atau pensiunan), diperoleh angka riil masyarakat yang benar-benar siap dan aktif bergerak di pasar kerja. Total Angkatan Kerja Aktif di Kabupaten Banggai Kepulauan saat ini diperkirakan berkisar antara 66.048 hingga 68.500 jiwa. Angka tersebut linear dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) daerah yang berada di persentase cukup tinggi, yakni sekitar 73% sampai 75%.

​Menelisik 4 Pilar Penyerap Tenaga Kerja

​Kemana perginya puluhan ribu angkatan kerja aktif tersebut? Data BPS memetakan penyerapan ini ke dalam empat pilar utama:

​Pilar I: Sektor Formal Aparatur (ASN, TNI, & POLRI)

Sebagai sektor birokrasi dan keamanan negara, pilar ini tercatat hanya mampu menyerap tenaga kerja lokal di kisaran angka 4.500 hingga 5.000 jiwa. Rinciannya terdiri dari 3.800 hingga 4.200 orang ASN (PNS & PPPK Daerah), ditambah 600 hingga 800 personel TNI/Polri di tingkat Polres, Polsek, serta Koramil. Angka ini menegaskan kecilnya porsi ketergantungan hidup masyarakat pada APBD/APBN.

​Pilar II: Sektor Pertanian, Perikanan, dan Kelautan (Motor Utama)

Inilah tulang punggung utama ekonomi Kepulauan Peling. Sektor basis ini mampu menyerap antara 31.000 hingga 33.000 jiwa. Di sinilah sebagian besar warga menggantungkan hidupnya, baik sebagai petani ubi banggai, petani kopra, cengkih, maupun nelayan tradisional.

​Pilar III: Sektor Wirausaha Mandiri

Sektor ini sukses menyerap kelompok produktif sekitar 15.000 hingga 17.000 jiwa di lapangan. Aktivitasnya didominasi oleh para pedagang pasar tradisional, pelaku usaha mikro (UMKM), serta pemilik warung kelontong yang tersebar luas di wilayah pemukiman.

​Pilar IV: Sektor Jasa, Perdagangan, dan Transportasi

Pilar terakhir ini mengamankan penyerapan tenaga kerja di kisaran angka 12.000 hingga 14.000 jiwa. Cakupannya sangat dinamis, meliputi tenaga logistik pelabuhan, sopir angkutan, motor laut, tenaga pengajar swasta atau honorer, hingga pekerja konstruksi.

​Paradoks Pengangguran Rendah dan “Sistem Pengaman Tradisional”

​Secara makro, Angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Banggai Kepulauan justru tergolong SANGAT RENDAH untuk skala Sulawesi Tengah, yakni hanya berkisar di angka 2,1% hingga 2,8%. Menariknya, angka super rendah ini tercapai di saat upaya revitalisasi dan diversifikasi produksi daerah belum terupayakan secara maksimal.

​Mengapa bisa demikian? Fakta lapangan menunjukkan adanya sistem pengaman sosial tradisional (social safety net) yang bekerja secara alami di tengah masyarakat Bangkep. Ketika seorang warga belum mendapatkan pekerjaan formal atau kantoran, mereka secara otomatis akan kembali ke akar: membantu keluarga di kebun atau ikut turun ke perahu nelayan.

​Meskipun statusnya sering kali sebagai pekerja tak dibayar (unpaid worker), pola ini mengandalkan sistem barter pemenuhan kebutuhan pokok harian keluarga atau kepentingan bersama. Sistem kekeluargaan dan kegotongroyongan inilah yang berhasil meredam lonjakan angka pengangguran terbuka yang ekstrem di Bangkep.

​Kesimpulannya, Bangkep tidak sedang mengalami krisis dalam arti adanya ledakan pengangguran di jalanan. Tantangan riil Bangkep ke depan bukanlah sekedar “menyediakan lapangan kerja asal ada”, melainkan bagaimana merevitalisasi sektor pertanian-perikanan, serta mendorong tumbuhnya industri formal agar mampu memberikan kepastian upah yang lebih layak bagi generasi mudanya.