Mala Iha, SBD – BTN — 08/11/2025
Gambarkan suasana rumah reot di Sumba, kontras dengan wajah Kades yang bersemangat, atau ilustrasi rumah yang baru direnovasi
Pemandangan ini jika hujan turun,kami berada didalam rumah tetapi,serasa diluar rumah,
Dinding bolong-bolong membuat nyamuk ‘masuk-keluar seenaknya’, dan penghuni rumah harus tidur berpayung ria.
Ini bukan adegan film komedi kemiskinan, melainkan realitas pahit yang bertahun-tahun melilit puluhan warga Desa Mala Iha, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.
Mereka hidup di bawah ‘Rumah Tidak Layak Huni’ (RTLH) yang lebih cocok disebut ‘Rumah Reot Era VOC’.
Setelah bertahun-tahun, di tengah minimnya sorotan dan lambannya intervensi yang nyata, akhirnya muncul ‘kabar baik dari langit’atau lebih tepatnya, dari forum ngopi daring yang diadakan oleh Pemerintah Desa (Pemdes).
Dari “Meeting PHP” Menuju Janji Konkret?
Kepala Desa (Kades) Mala Iha, Marten Gheda Duni, yang kabarnya tampil low profile namun menjanjikan isi yang “mantap,” mengumumkan program perbaikan puluhan rumah reot yang akan digenjot menggunakan Dana Desa.
”Ini bukan sekedar meeting PHP (Pemberi Harapan Palsu), tapi pertemuan yang harus ditindaklanjuti dengan niat baik dan aksi nyata,” tegas Kades Marten Gheda Duni.
Pengumuman ini tentu memantik pertanyaan kritis. Mengapa baru sekarang? Bukankah Dana Desa dan kebutuhan dasar warga adalah prioritas utama yang seharusnya sudah lama dieksekusi, tanpa harus menunggu rumah warga menjadi arena uji nyali yang berhadiah penyakit dan kemiskinan ekstrem?
Jangan Sampai Bantuan Salah Sasaran!
Dalam upaya menepis keraguan publik terhadap transparansi, Kades Marten memastikan program ini akan tepat sasaran.
”Kami tidak mau bantuan ini nyasar ke yang rumahnya masih kinclong tapi pura-pura bocor.
Pemerintah Desa akan kirim perangkat untuk survei langsung ke lapangan. Biar semangat gotong royong warga juga ikut dipoles, bukan hanya rumahnya,” ujar Marten.
Namun, pengiriman perangkat desa untuk survei harus diawasi ketat. Mengingat banyaknya kasus bantuan RTLH yang “salah alamat” di berbagai daerah, janji ini adalah ujian integritas bagi Kades dan jajarannya.
Warga patut mencatat dan mengawasi, jangan sampai ‘pemolesan’ semangat gotong royong itu hanya terjadi di atas kertas, sementara yang benar-benar membutuhkan tetap “numpang tidur sama angin.”
Sorotan Tajam terhadap Kampung Panoka Dara Sebagai Barometer oleh
Kades Marten Gheda Duni sehingga ia langsung tancap gas dan menunjuk target awal yang krusial.
”Fokus saja dulu ke Kampung Panoka Dara Desa Mala Iha Susun I. Di sana masih banyak rumah yang kalau hujan dikit, penghuninya sudah siap-siap buka payung di dalam rumah.”
Pemilihan Kampung Panoka Dara harus menjadi barometer keberhasilan program ini.
Wajah Desa Mala Iha di mata publik dan wisatawan yang melintasi Jalur Jalan Provinsi,khususnya yang melintasi Jembatan Ampera si Pulau Sumba tidak boleh lagi dihiasi oleh “koleksi rumah reot.” Desa yang indah harus didukung oleh kualitas hidup warganya yang layak, bukan hanya infrastruktur yang mentereng.
Semen dan Bata Tak Cukup Tanpa Empati
Program renovasi ini yang diklaim sebagai wujud kolaborasi Pemdes dan Dana Desa, dengan tujuan ganda, perbaikan hunian dan pengurangan angka kemiskinan ekstrem. Sekali mendayung, tiga pulau (rumah layak, desa kinclong, dan nilai plus Pemdes) diyakini terlampaui.
Kepala Desa Marten Gheda Duni telah memberikan contoh bahwa membangun desa tidak cukup hanya dengan semen dan bata, tapi juga harus dengan empati dan kolaborasi yang jujur.
Kini, bola panas ada di tangan Pemdes Mala Iha. Semoga tidak ada lagi warga yang mengeluh, “Angin malam ini dingin banget,” karena ternyata yang bolong bukan hatinya, melainkan dinding rumahnya.
Jika janji ini terealisasi, ini akan menjadi cerita manis. Namun, jika mangkrak atau salah sasaran, publik akan mencatatnya sebagai gagalnya empati seorang pemimpin yang mengelola Dana Desa.
TIBO, Berantastipikornews.co.id






