​BANGGAI KEPULAUAN, BTN – Istilah “ironis” rasanya tak lagi cukup untuk menggambarkan nestapa pendidikan di MTs Sullamul Falah Tombos. Di saat anggaran pendidikan negara terus digelontorkan dalam jumlah fantastis, sekolah ini justru menjadi saksi bisu kegagalan birokrasi yang membiarkan bangunan sekolah melapuk selama lebih dari dua dekade. 17/04/2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Berdasarkan investigasi mendalam tim Berantastipikornews.co.id, sekolah ini seolah terlupakan dari peta pembangunan nasional. Sejak tahun 2004—genap 22 tahun silam—pihak sekolah telah berulang kali mengajukan permohonan perbaikan sarana dan prasarana (sarpras), namun hingga kini hasilnya nihil.

​Kondisi di lapangan menunjukkan pemandangan yang menyayat hati sekaligus mengerikan. Proses belajar-mengajar di MTs Sullamul Falah bukan lagi soal menuntut ilmu, melainkan soal bertahan hidup.

Plafon dan Atap: Lubang-lubang besar menganga di langit-langit kelas. Rangka kayu yang menjadi penyangga utama telah melapuk dimakan usia, siap ambruk kapan saja menimpa siswa.

Fasad Bangunan: Dinding luar sekolah nampak hancur dengan material bangunan yang mulai berjatuhan, menciptakan risiko keselamatan permanen bagi siapa pun yang melintas.

Ruang Administrasi: Aktivitas administrasi sekolah terpaksa dilakukan di bawah plafon yang terbuka lebar. Saat hujan turun, perangkat kerja dan dokumen penting terancam rusak, memaksa para guru bekerja dalam kecemasan.

​Kepala Madrasah mengungkapkan rasa kecewa yang mendalam atas lambatnya respons pemerintah. Ia merasa pengajuan yang dilakukan selama puluhan tahun hanya menjadi tumpukan kertas tanpa makna di meja para pengambil kebijakan.

Kami sudah mengajukan lewat jalur sarpras sejak 2004, 2005. Setiap ada instruksi pengajuan, kami ikuti. Namun sampai hari ini, kami hanya diberikan harapan palsu. Tidak ada realisasi nyata,” tegasnya dengan nada getir.

​Ketimpangan ini memicu kritik keras dari tim investigasi lapangan. Bagaimana mungkin sebuah institusi pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Pusat dibiarkan terbengkalai selama dua dekade? Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: Ke mana aliran anggaran sarpras yang seharusnya diperuntukkan bagi sekolah-sekolah dengan kondisi darurat?

​Tim Berantastipikornews.co.id menegaskan bahwa persoalan ini tidak akan berhenti di meja redaksi. Investigasi ini akan dibawa ke tingkat pusat untuk menuntut transparansi dari Kemenag.

​”Ini bukan sekedar masalah fisik bangunan, ini adalah masalah kemanusiaan dan hak anak bangsa atas pendidikan yang aman. Kami akan mengawal kasus ini hingga Kemenag Pusat memberikan jawaban pasti dan realisasi anggaran. Jangan tunggu jatuh korban baru bertindak,” tegas perwakilan tim investigasi.

​Pihak sekolah dan masyarakat setempat kini hanya bisa berharap agar pemerintah berhenti memberikan janji administratif dan segera melakukan rehabilitasi total. Pendidikan adalah pilar bangsa, namun di Tombos, pilar itu kini tengah menunggu waktu untuk roboh.

(Jein)