Scroll Untuk Lanjut Membaca

​PATUKUKI, BTN – Di tengah riuh rendahnya kesibukan dunia, selalu ada kisah-kisah sunyi tentang ketulusan yang lahir dari hati seorang manusia biasa. Di Desa Patukuki, kisah itu melekat pada sosok Laso Bongol, seorang putra terbaik desa yang memilih jalan sunyi untuk menjadi pelindung bagi sesama. 30/05/2026

​Bukan dengan jabatan atau materi melimpah, melainkan dengan sebuah ide cemerlang yang sederhana namun sarat akan nilai kemanusiaan. Saban hari, mata tajam dan kepeduliannya tertuju pada sebuah titik rawan yang kerap mengancam nyawa para pengendara: Tanjakan Batu Togong Patukuki.

​Tanjakan yang dikenal curam dan berkelok ini sering kali menjadi momok menakutkan bagi pengguna jalan. Kerikil-kerikil kecil yang berserakan di aspal basah bagaikan ranjau tak kasat mata, siap membuat roda kendaraan tergelincir dan merenggut keselamatan, bahkan nyawa manusia.

​Melihat ancaman nyata tersebut, Laso Bongol tidak tinggal diam. Tergerak oleh rasa kemanusiaan yang mendalam, beliau secara sukarela turun ke jalan. Bermodalkan alat seadanya, dengan sabar dan telaten beliau menyisir aspal, membersihkan setiap butir kerikil yang berserakan, dan memindahkannya ke tepian jalan.

​Aksi nyata ini bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan sebuah manifestasi dari cinta kasih seorang warga kepada sesamanya. Setiap sapuan dan kerikil yang disingkirkan oleh tangan dingin Laso Bongol adalah jaminan keselamatan bagi pengendara sepeda motor dan mobil yang melintas di sana. Beliau menukar lelahnya sendiri dengan senyuman dan keselamatan orang-orang yang bahkan mungkin tidak mengenal namanya.

​”Apa yang dilakukan oleh Pak Laso Bongol adalah bukti nyata bahwa pahlawan tidak selalu lahir dari medan perang. Beliau adalah pahlawan keselamatan di desa kami,” ujar salah seorang pengguna jalan yang sering melintasi tanjakan tersebut dengan nada haru.

​Melalui dedikasi tanpa pamrih ini, Laso Bongol telah mengajarkan kita semua arti sebuah kepedulian yang sejati. Di balik ketenangannya, ada jiwa besar seorang putra daerah yang mendedikasikan hidupnya demi memastikan tidak ada air mata yang tumpah di Tanjakan Batu Togong. Dedikasi ini menjadi pengingat berharga bahwa sebuah tindakan kecil yang lahir dari ketulusan hati, mampu menyelamatkan aset paling berharga di dunia ini: nyawa manusia.