BANGGAI KEPULAUAN, BTN — Di saat kobaran api dan jelaga asap memeluk kawasan Batangono, ada jejak-jejak ketulusan yang terukir di balik perjuangan para pejuang garis depan. 24/09/2026
Di tengah sengatan panas yang membakar kulit dan kepulan asap yang menyesakkan dada, sebuah kepedulian sederhana hadir membawa kesejukan yang tak terhingga.
SPPG Pelinglalomo, Kecamatan Buko, membuktikan bahwa kemanusiaan tidak pernah butuh instruksi formal untuk bergerak.
Ketika melihat para petugas Satgas Karhutla berjibaku menembus medan yang terjal dan berbahaya demi memadamkan api, hati para personel SPPG Buko tergerak untuk ikut memikul beban tersebut.
Tanpa menanti imbauan, SPPG Buko langsung menyalurkan bantuan logistik ke lokasi bencana. Sebanyak 15 dos air minum, 173 paket makanan bergizi, 10 pack masker, serta 2 bungkus kopi dan 2 kilogram gula dikirimkan untuk menemani perjuangan para petugas di lapangan.
Setetes Air, Hangatnya Kopi, dan Doa di Tengah Kepulan Asap
Di tengah membara-nya Karhutla, seteguk air bersih bukan lagi sekadar penawar dahaga, dan secangkir kopi hangat bukan lagi sekadar pelengkap istirahat. Semuanya berubah menjadi simbol bahwa di luar sana, ada saudara-saudara yang peduli dan mendoakan keselamatan mereka.
Langkah cepat SPPG Buko menegaskan satu hal:
“penanganan bencana Karhutla bukan hanya beban bahu para petugas di garis depan. Kehadiran masyarakat, lembaga, maupun berbagai elemen lainnya adalah energi kehidupan yang memompa kembali semangat mereka yang mulai kelelahan”.
Bantuan ini mungkin tidak serta-merta memadamkan kobaran api yang membumbung tinggi. Namun, sebungkus nasi, sebotol air, dan selembar masker yang diberikan adalah cara paling jujur untuk berbisik kepada para pejuang lapangan.
Dari Dapur MBG, Mengalir Nafas Kemanusiaan
Kehadiran SPPG Buko di tengah tragedi Batangono memancarkan sisi lain dari dedikasi dapur SPPG. Di hari-hari biasa, dari dapur itulah sajian bergizi disiapkan demi masa depan anak-anak bangsa. Namun saat darurat mengetuk pintu daerah mereka, semangat yang sama menjelma menjadi benteng kepedulian sosial.
Ini bukan tentang seberapa besar nominal yang diserahkan, melainkan tentang ketajaman nurani untuk hadir saat orang lain berada dalam kesulitan.
Di antara pekatnya asap Karhutla Batangono, SPPG Buko telah meninggalkan pesan mendalam yang mengetuk hati kita semua: kepedulian tak pernah menunggu perintah. Sebab ketika nurani telah bicara, tangan akan bergerak dengan sendirinya untuk saling menopang.
STOP BAKAR LAHAN. JAGA HUTAN, JAGA KEHIDUPAN.






