BANGGAI KEPULAUAN BTN (25 Februari 2026) – Viral di media sosial mengenai ketidakpuasan publik terhadap paket menu Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu reaksi dari berbagai kalangan. Tokoh pemuda asal Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Sulawesi Tengah, Maulana Kemala Raden, angkat bicara mengenai akar masalah yang menurutnya bersumber dari lemahnya koordinasi dan edukasi di tingkat bawah.
Maulana menilai, polemik ini mencuat akibat adanya kesenjangan informasi atau miskomunikasi yang signifikan antara pihak penyedia (vendor) dengan pihak sekolah. Sebagai garda terdepan, sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan penjelasan yang utuh kepada orang tua siswa sebagai penerima manfaat.
”Pihak sekolah adalah jembatan utama. Mereka harus mampu meneruskan informasi sekaligus memberikan edukasi kepada orang tua agar tidak terjadi salah tafsir mengenai standar menu yang diberikan,” tegas Maulana melalui kanal YouTube resminya.
Dalam tanggapannya, Maulana menyoroti perlunya rincian harga yang transparan agar masyarakat dapat melakukan pengawasan secara objektif. Ia memberikan gambaran bahwa setiap komponen dalam paket memiliki nilai ekonomi dan gizi yang telah diperhitungkan, seperti.
Satu butir telur rebus,estimasi Rp3.000.
Kacang-kacangan: estimasi Rp3.000.
Roti: estimasi Rp4.000.
Serta komponen lain seperti susu yang melengkapi standar gizi.
”Jika rincian ini tersampaikan dengan baik, orang tua akan memiliki pemahaman yang benar terkait nilai paket MBG tersebut. Transparansi adalah kunci agar program pemerintah ini tepat sasaran dan minim prasangka,” tambahnya.
Maulana berharap pihak vendor dan sekolah lebih proaktif dalam membangun dialog bersama orang tua siswa. Hal ini demi memastikan kualitas asupan gizi anak sekolah di wilayah Sulawesi Tengah, khususnya Banggai Kepulauan, tetap terjaga tanpa dibayangi polemik komunikasi.
Redaksi,
Sumber YouTube,






