BOKAN Banggai laut – BTN 25/01/2026-Praktik pengelolaan keuangan di Desa Keak, Kecamatan Bokan Kabupaten Banggai laut, kini memicu kegaduhan. Dugaan penyimpangan anggaran pada pembangunan Gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) dan rentetan kegiatan desa lainnya kian menguat, menyusul kondisi fisik bangunan yang memprihatinkan dan terkesan dibiarkan terbengkalai.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Gedung BPU yang sejatinya diproyeksikan sebagai simbol kemajuan desa, kini justru tampak seperti “monumen kelalaian”Anggaran yang bersumber dari uang rakyat diduga menguap tanpa hasil yang sepadan. Investigasi di lokasi menunjukkan progres pengerjaan yang jauh dari kata tuntas, memicu kecurigaan bahwa realisasi anggaran hanya terjadi di atas kertas, sementara fisiknya “jalan di tempat”.

​“Ini bukan sekedar keterlambatan, tapi patut diduga ada niat jahat (mens rea) untuk menyunat anggaran. Rakyat dipaksa melihat bangunan kosong, sementara hak-hak mereka melalui Dana Desa diduga dirampok oleh oknum yang tidak punya urat malu,” tegas salah satu aktivis lokal yang memantau kasus ini.

​Selain urusan fisik, Pemerintah Desa Keak dinilai telah gagal menjalankan amanat UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Absennya transparansi dalam pengelolaan APBDes menunjukkan adanya upaya menutup-nutupi borok pengelolaan keuangan desa dari mata masyarakat.

​Ketidakjelasan ini bukan sekedar urusan administrasi, melainkan tamparan keras bagi prinsip tata kelola pemerintahan yang bersih (good governance). Jika dibiarkan, Desa Keak hanya akan menjadi ladang basah bagi oknum-oknum “tikus kantor” yang kenyang di atas penderitaan warga.

​Ketajaman pengawasan dari BPD dan Pemerintah Kecamatan Bokan Banggai laut pun dipertanyakan. Publik mulai curiga adanya “main mata” atau pembiaran yang terstruktur.

​Sudah saatnya Inspektorat Kabupaten Banggai Laut dan Kejaksaan Negeri tidak hanya duduk diam di balik meja. Harus ada audit investigatif menyeluruh. Jangan tunggu amarah masyarakat memuncak akibat tumpulnya penegakan hukum di tingkat desa.

​Hingga saat ini, Kepala Desa Keak seolah “bungkam” seribu bahasa. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media selalu menemui jalan buntu, memperkuat sinyal bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan.

Susanto