Scroll Untuk Lanjut Membaca

PELING TENGAH, — 8 Agustus 2026 — Di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan dan akses literasi di wilayah pelosok, semangat membaca justru tumbuh dari tangan para siswa. Siswa-siswi SMPN 2 Peling Tengah Kelas Jauh, Dusun Sampekonan, menunjukkan kepedulian nyata terhadap pendidikan dengan melaksanakan kegiatan pembuatan Taman Baca “POPITOI” pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Taman baca tersebut mengusung nama “POPITOI”, yang merupakan singkatan dari POmenggon PIkilan TOlos Inease. Gagasan ini diarahkan sebagai ruang yang dapat mendorong anak-anak untuk membaca, belajar, bertukar pengetahuan, sekaligus mengembangkan kebiasaan positif di lingkungan mereka.

Kegiatan para siswa terlihat tidak sekadar sebagai aktivitas pembangunan fisik. Mereka turut terlibat dalam proses pembuatan sarana taman baca secara gotong royong. Dari penyusunan rangka hingga pemasangan atap, keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas yang lengkap, tetapi dapat tumbuh dari inisiatif, kepedulian, dan kemauan untuk menciptakan ruang belajar bersama.

Literasi Tidak Boleh Berhenti di Dalam Ruang Kelas

Pembuatan Taman Baca POPITOI menjadi pesan penting bahwa budaya literasi membutuhkan lingkungan yang mendukung. Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan membaca di sekolah, tetapi juga membutuhkan ruang yang memungkinkan mereka menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di wilayah yang akses terhadap berbagai sumber bacaan mungkin tidak semudah di kawasan perkotaan, kehadiran taman baca dapat menjadi langkah sederhana namun strategis.

Sebab, keterbatasan fasilitas tidak boleh berubah menjadi keterbatasan cita-cita anak-anak.

Taman baca bukan sekadar bangunan sederhana. Jika dikelola secara konsisten, tempat tersebut dapat menjadi ruang untuk membaca buku, berdiskusi, belajar bersama, mengembangkan kreativitas, serta membangun keberanian anak-anak untuk mengenal dunia yang lebih luas melalui pengetahuan.

POPITOI dan Tantangan Pendidikan di Wilayah Jauh

Apa yang dilakukan siswa SMPN 2 Peling Tengah Kelas Jauh juga membuka ruang refleksi yang lebih luas.

Pemerataan pendidikan bukan hanya berbicara tentang keberadaan sekolah dan tenaga pendidik. Ketersediaan bahan bacaan, ruang belajar, lingkungan literasi, serta akses terhadap pengetahuan juga merupakan bagian penting dari kualitas pendidikan.

Karena itu, inisiatif siswa membangun taman baca patut diapresiasi sekaligus menjadi pengingat bagi berbagai pihak agar penguatan literasi di wilayah terpencil tidak hanya bergantung pada kreativitas masyarakat dan siswa.

Pemerintah, sekolah, orang tua, masyarakat, serta pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan perlu mengambil bagian agar ruang literasi seperti POPITOI tidak berhenti sebagai proyek pembangunan fisik semata.

Dari Sampekonan, Menanam Pengetahuan untuk Masa Depan

Kegiatan pada 8 Agustus 2026 ini memberikan gambaran bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil.

Para siswa mungkin hanya sedang membangun sebuah taman baca. Namun secara substansi, mereka sedang membangun kebiasaan membaca, menanam rasa memiliki terhadap lingkungan pendidikan, dan membuka ruang bagi tumbuhnya pengetahuan.

POPITOI di Dusun Sampekonan diharapkan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi benar-benar menjadi ruang hidup bagi literasi anak-anak.

Sebab, sebuah buku yang dibaca hari ini dapat melahirkan gagasan esok hari. Dan sebuah ruang kecil yang dibangun dengan gotong royong hari ini, bisa menjadi tempat lahirnya generasi yang lebih berani berpikir, bertanya, dan bermimpi.

Dari Sampekonan, literasi sedang dibangun bukan hanya dengan buku, tetapi dengan tangan dan kepedulian para siswa sendiri.

JEIN BTN