Scroll Untuk Lanjut Membaca

​GOWA, BTN — Isu dugaan perselingkuhan yang menerpa Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, dengan salah satu konsultan politiknya, Basri Kajang, terus menggelinding bak bola salju. Polemik yang kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat tersebut akhirnya memantik reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan pemuda daerah. 28/06/2026

​Menyikapi kondisi tersebut, Irwan Azis Kumala, seorang tokoh pemuda sekaligus putra asli daerah Kabupaten Gowa, akhirnya angkat bicara. Ia mengaku sangat menyayangkan bagaimana isu yang awalnya bergulir di ruang publik ini justru bergeser menjadi komoditas politik yang kian memanas.

​Menurut Irwan, sangat memalukan melihat persoalan dugaan hubungan pribadi ini sampai harus diseret ke ranah Panitia Khusus (Pansus) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gowa. Ia menilai langkah tersebut sudah terlalu jauh dan tidak mencerminkan esensi dari tugas lembaga legislatif yang sebenarnya.

​”Sungguh sangat memalukan. Mana mungkin urusan pribadi yang belum terbukti keabsahannya secara hukum, sampai harus diseret hingga ke ranah Pansus DPRD. Ini sudah keluar dari koridor yang semestinya,” ujar Irwan dengan nada kecewa.

​Lebih lanjut, Irwan Azis Kumala menegaskan bahwa Bupati Gowa maupun jajaran legislatif di DPRD Kabupaten Gowa seharusnya meletakkan fokus utama mereka pada pemenuhan kepentingan masyarakat luas. Mengoreksi dan membesar-besarkan urusan personal dinilai hanya akan menguras energi publik secara sia-sia.

​Sebagai perpanjangan lidah rakyat, DPRD Kabupaten Gowa sejatinya memiliki mekanisme yang lebih elegan untuk menyikapi isu ini. Alih-alih langsung membentuk Pansus yang memicu kegaduhan, DPRD dinilai lebih bijak jika memanggil Bupati secara persuasif untuk memberikan klarifikasi secara tertutup.

​Irwan menyayangkan sikap kedua belah pihak yang seolah-olah memanfaatkan momentum ini untuk saling unjuk taring. Apa yang terjadi saat ini justru terkesan seperti panggung tontonan adu kekuatan antara lembaga eksekutif dan legislatif, yang sama sekali tidak mengedukasi masyarakat.

​”Saya sebagai putra Gowa, yang lahir dari rahim seorang ibu asli Gowa dan ayah yang juga putra daerah, merasa malu melihat para pemimpin kita mempertontonkan ego seperti ini di depan publik,” tutur Irwan menyampaikan keresahan mendalamnya.

​Ia menambahkan, masyarakat Kabupaten Gowa saat ini membutuhkan aksi nyata dari para pemimpinnya dalam mengentaskan kemiskinan, memperbaiki infrastruktur, dan meningkatkan mutu pelayanan publik, ketimbang disuguhi drama politik yang tidak produktif.

​Di akhir penyataannya, Irwan mendesak kedua lembaga negara di Kabupaten Gowa tersebut untuk segera menyudahi polemik ini. Ia berharap Pemkab Gowa dan DPRD bisa kembali bersinergi demi fokus memperjuangkan harkat, martabat, serta kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Gowa.