Scroll Untuk Lanjut Membaca

Waingapu, BTN – Hamparan sawah di Desa Wanga, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, yang selama bertahun-tahun menjadi lumbung pangan masyarakat, kini menghadapi kenyataan berbeda. Air irigasi yang dahulu mampu menopang hingga tiga musim tanam dalam setahun semakin sulit diperoleh setiap musim kemarau. 13/07/2026

Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh petani. Lahan yang sebelumnya produktif kini banyak dibiarkan menganggur setelah musim hujan berakhir karena saluran irigasi tidak lagi mampu mengalirkan air secara memadai. Akibatnya, sebagian besar petani hanya dapat menanam padi satu kali dalam setahun.

Sebagian petani yang memiliki modal memilih menggunakan pompa air agar tetap dapat menanam pada musim kedua. Namun, pilihan itu membawa konsekuensi biaya produksi yang jauh lebih tinggi. Pengeluaran untuk bahan bakar, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja terus meningkat, sementara hasil panen justru menurun. Kondisi tersebut membuat keuntungan petani semakin menipis, bahkan tidak sedikit yang terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar sektor pertanian.

Di tengah semakin terbatasnya pasokan air, muncul pertanyaan yang hingga kini belum terjawab secara tuntas: apa penyebab menurunnya ketersediaan air di kawasan persawahan Wanga?

Dalam laporan Mongabay Indonesia yang dipublikasikan pada 27 Maret 2026, sejumlah warga menduga perubahan kondisi sumber air berkaitan dengan aktivitas perkebunan tebu di wilayah hulu. Dugaan tersebut berkembang karena berkurangnya debit air dinilai terjadi setelah perubahan pemanfaatan lahan di kawasan tersebut.

Namun, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur membantah adanya kesimpulan tersebut. Bupati Sumba Timur menyatakan bahwa penurunan debit air pada musim kemarau telah terjadi sejak sebelum perusahaan mulai beroperasi. Menurut pemerintah daerah, persoalan air merupakan masalah yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan tidak dapat dikaitkan dengan satu faktor tanpa didukung hasil kajian ilmiah.

Perbedaan pandangan antara masyarakat dan pemerintah menunjukkan bahwa persoalan air di Wanga masih menyisakan banyak pertanyaan. Hingga kini belum ada hasil penelitian yang dipublikasikan secara terbuka untuk memastikan faktor-faktor yang menyebabkan berkurangnya debit air, apakah dipengaruhi perubahan iklim, kondisi hidrologi daerah aliran sungai, perubahan tutupan lahan, meningkatnya kebutuhan air, atau kombinasi dari berbagai faktor tersebut.

Di tengah belum adanya kepastian itu, petani menjadi pihak yang menanggung dampak paling nyata. Produktivitas sawah menurun, biaya usaha tani meningkat, dan ketahanan ekonomi rumah tangga petani semakin rentan.

Bagi masyarakat Wanga, persoalan air bukan sekadar isu pertanian. Air menentukan keberlangsungan produksi pangan, pendapatan keluarga, dan masa depan ribuan warga yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Karena itu, kebutuhan akan investigasi ilmiah yang independen, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi semakin mendesak agar penyebab krisis air dapat dipastikan dan solusi yang diambil benar-benar menyentuh akar persoalan.

(BTN).

Piter Kabiro, Sumba Timur.