BUALEMO, BTN – Rakyat Desa Binsil, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, kini berada di titik nadir kesabaran. Di atas aliran sungai yang mengancam, berdiri sebuah jembatan berlantai kayu lapuk yang kini lebih layak disebut sebagai “Jebakan Kematian” ketimbang fasilitas publik. Sementara pejabat daerah duduk nyaman di kursi empuk hasil mandat rakyat, warga Binsil setiap hari harus bertaruh nyawa melintasi konstruksi yang tinggal menunggu waktu untuk roboh. Rabu, 11/03/2026
Tokoh masyarakat Desa Binsil, Herson, melontarkan kecaman pedas terhadap sikap apatis Pemerintah Daerah dan Dinas terkait yang seolah memelihara pembiaran. Ia menegaskan bahwa gelombang protes di media sosial dan kanal informasi publik bukan sekedar “angin lalu”, melainkan alarm darurat yang sengaja diabaikan oleh para pengambil kebijakan. Kami bosan mendengar alasan birokrasi atau keterbatasan anggaran. Apakah harga nyawa satu warga Binsil lebih murah dibanding biaya perbaikan jembatan ini? Jangan sampai pemerintah baru datang membawa karangan bunga duka cita saat jembatan ini sudah memakan korban!” tegas Herson dengan nada geram.
Herson secara spesifik menyoroti kinerja Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan instansi terkait yang terkesan menutup mata. Menurutnya, aduan yang sudah masif disuarakan warga membuktikan adanya sumbatan komunikasi yang kronis di tubuh pemerintahan daerah.
”Di mana sensitivitas Dinas terkait? Apakah mereka harus menunggu instruksi atasan atau menunggu viral baru bekerja? Ini bukan soal estetika jalan, ini soal urat nadi ekonomi dan keselamatan jiwa yang terancam lumpuh total,” tambahnya.
- Hentikan Retorika Politik: Rakyat muak dengan jargon “Mengutamakan Rakyat” yang hanya muncul saat suksesi politik. Jembatan Binsil adalah bukti nyata pengkhianatan terhadap janji-janji pembangunan.
- Audit Kinerja Dinas Terkait: Mendesak adanya pertanggungjawaban dari instansi teknis atas kelalaian dalam pemeliharaan infrastruktur vital yang membahayakan publik.
- Tuntutan Renovasi Total (Bukan Tambal Sulam): Masyarakat menolak solusi jangka pendek yang bersifat kosmetik. Dibutuhkan jembatan permanen yang layak dan aman.
- Ancaman Isolasi Ekonomi: Jika jembatan ini ambruk, Pemerintah Daerah secara sadar telah melakukan pemiskinan sistematis terhadap warga Desa Binsil dengan memutus akses distribusi ekonomi mereka.
Kini bola panas berada di tangan Pemerintah Daerah. Rakyat Desa Binsil tidak lagi meminta belas kasihan, melainkan menuntut hak dasar mereka sebagai pembayar pajak untuk mendapatkan jaminan keamanan.
Apakah pemerintah akan hadir sebagai pelayan rakyat yang responsif, atau tetap menjadi penonton bisu yang baru terbangun setelah tragedi berdarah terjadi? Waktunya sudah habis untuk sekedar “berkoordinasi”; rakyat butuh eksekusi.
(Herson).






