Scroll Untuk Lanjut Membaca

​KALUMBATAN, BTN — Tabir kemunafikan di birokrasi Desa Kalumbatan akhirnya runtuh. Sebuah skandal memuakkan yang menyeret nama orang nomor satu di desa tersebut meledak ke publik. Bukti percakapan WhatsApp berbahasa Bajo yang bocor bukan lagi sekedar rumor, melainkan “peluru panas” yang membongkar busuknya tata kelola anggaran proyek pasar dan jalan rabat di desa tersebut. 25/04/2026

​Manifesto Korupsi: “14 Juta Kita Kondisikan”

​Dalam tangkapan layar yang kini menjadi konsumsi publik, terpampang instruksi menjijikkan yang mengatur aliran dana haram. Angka Rp14 juta disebut secara vulgar untuk “dikondisikan” bersama. Kalimat yang paling menyulut kemarahan adalah klaim absolut yang berbunyi: “Saya kepala desa, tidak ada alasan apapun.”

​Ini bukan sekadar perintah kerja; ini adalah maklumat seorang tiran yang merasa hukum bisa ditekuk di bawah ketiaknya.

​Kevin Lapendos: “Jabatan Bukan Alat Rampok!”

​Aktivis vokal Kalumbatan, Kevin Lapendos, meledak dalam kemarahan saat memberikan pernyataan. Ia menyebut perilaku ini sebagai pengkhianatan paling rendah terhadap kepercayaan warga.

​“Ini adalah bukti telanjang bahwa kursi kekuasaan di Kalumbatan telah disalahgunakan menjadi mesin ATM pribadi. Kalau benar kepala desa bermain di balik RAB, maka dia bukan lagi pemimpin, melainkan perampok berseragam yang memakan hak rakyatnya sendiri!” gertak Kevin dengan nada berapi-api.

​Menurut Kevin, diksi “berbagi” dan “mengondisikan” dalam percakapan tersebut adalah bukti otentik adanya konspirasi kriminal sebelum semen pertama proyek dituangkan.

​“Rakyat bersusah payah membayar pajak, tapi di atas sana para elit berpesta pora membagi ‘kue’ anggaran. Ini bukan sekedar pelanggaran hukum, ini adalah penghinaan terhadap martabat masyarakat Bajo yang jujur dan pekerja keras,” tegasnya lagi.

​Melawan Tirani “Raja Kecil”

​Kevin juga mengecam gaya komunikasi “tangan besi” yang ditunjukkan sosok yang diduga kepala desa tersebut.

​“Kalimat ‘tidak ada alasan apapun’ itu gaya preman, bukan gaya pelayan publik! Kalumbatan bukan milik pribadi atau warisan nenek moyangnya. Jangan merasa jadi raja kecil yang bisa membungkam kebenaran dengan jabatan,” kecam Kevin.

​Garis Perang Telah Ditarik

​Gerakan pemuda Kalumbatan kini tidak lagi sekedar menuntut klarifikasi. Mereka menuntut pertanggungjawaban hukum total.

​“Kami tidak butuh janji manis atau alasan teknis yang dibuat-buat. Kami sedang mengumpulkan bukti untuk menyeret para tikus anggaran ini ke meja hijau. Kami pastikan, siapapun yang terlibat akan merasakan dinginnya jeruji besi,” ancam Kevin.

​Kevin menutup dengan pernyataan yang mengguncang:

​“Jika keadilan tidak bisa ditegakkan di kantor desa, maka rakyat yang akan menjemput keadilan itu di jalanan. Kalumbatan sedang berada di titik didih, dan koruptor adalah bahan bakarnya!”

​Hingga detik ini, pihak Pemerintah Desa Kalumbatan masih memilih bungkam seribu bahasa. Namun, di tengah diamnya penguasa, gelombang perlawanan rakyat terus membesar. Satu pesan jelas bagi mereka yang bermain api: Waktu kalian sudah habis!