WAINGAPU –NTT BTN 15/02/2026- Slogan “Air Adalah Sumber Kehidupan” nampaknya hanya menjadi pepesan kosong bagi warga Kampung Baru, Kelurahan Hambala, Kota Waingapu. Sudah tiga bulan lamanya, kucuran air PDAM Sumba Timur raib dari pipa-pipa rumah warga, memaksa masyarakat kembali ke “zaman batu” dengan mengandalkan air Kali Kanatang untuk bertahan hidup.
Ironisnya, meski keluhan sudah berulang kali diteriakkan ke telinga manajemen PDAM, respon yang diterima warga hanyalah janji-janji manis pengecekan tanpa realisasi. Kondisi ini memicu amarah warga yang merasa kewajiban membayar tagihan selalu dituntut, namun hak mendapatkan layanan dasar diabaikan total.
Salah satu warga yang geram mengungkapkan kekecewaannya kepada Media BTN. Dengan nada getir, ia menyindir ketidakmampuan PDAM dalam mengelola distribusi air bersih di jantung kota.
“Sudah tiga bulan air tidak keluar. Mau cuci pakaian atau minum, kami harus ambil di Kali Kanatang. Ingat, kami ini pelanggan air minum, bukan satpam air minum yang kerjaannya cuma jaga pipa kosong!” tegasnya.
Kelangkaan air ini diduga kuat akibat buruknya pemeliharaan jaringan pipa, terutama jalur yang mengarah ke Pelabuhan Laut Waingapu. Warga menilai, pembiaran selama 90 hari ini bukan lagi kendala teknis biasa, melainkan bentuk ketidakpedulian (insensitivitas) manajemen PDAM terhadap hajat hidup orang banyak.
Kritik tajam pun diarahkan kepada Direktur PDAM Sumba Timur. Warga mempertanyakan apa kerja nyata jajaran direksi sementara rakyatnya harus memikul jeriken di kali setiap hari
Penderitaan warga Kampung Baru ini menjadi rapor merah bagi pelayanan publik di bawah kepemimpinan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Masyarakat kini mendesak.
Bupati Sumba Timur segera turun tangan dan memberikan teguran keras, atau bila perlu, mengevaluasi total jabatan Direktur PDAM Waingapu.
DPRD Sumba Timur segera melakukan fungsi pengawasan (sidak) ke titik-titik kemacetan pipa dan memanggil manajemen PDAM untuk mempertanggungjawabkan kinerja mereka.
Perbaikan Jaringan Segera, terutama akses utama menuju wilayah terdampak agar hak warga sebagai konsumen terpenuhi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PDAM Sumba Timur belum memberikan pernyataan resmi terkait solusi konkret atas mampetnya aliran air selama tiga bulan terakhir. Jangan sampai rakyat berkesimpulan bahwa pemerintah baru akan bergerak setelah krisis ini berubah menjadi bencana kesehatan.
Laporan: Piter, BTN






