Scroll Untuk Lanjut Membaca

BTN — Di tengah masifnya arus digitalisasi di era modern, baru-baru ini beredar sebuah video promosi di media sosial yang memicu keresahan publik. Pada awal video tersebut, ditampilkan seorang perempuan berpakaian minim, kemudian seekor hamster masuk ke dalam bajunya, tepat di area dada. Pada slide berikutnya, sosok laki-laki diubah menjadi seekor hamster. Konten semacam ini dinilai merepresentasikan fantasi seksual yang menjadikan tubuh perempuan sebagai objek hiburan dan candaan vulgar. 28/05/2026

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa jaminan keamanan digital bagi perempuan justru semakin menyempit di tengah perkembangan teknologi. Hak perempuan untuk bebas berekspresi dan memiliki otoritas penuh atas tubuhnya sendiri masih sering terganggu oleh budaya digital yang sarat objektifikasi. Tidak sedikit konten di media sosial yang dibungkus atas nama “humor”, tetapi pada kenyataannya merendahkan martabat perempuan dan menormalisasi pelecehan seksual.

Di berbagai lini kehidupan, perempuan masih dibebani stigma dan tuntutan sosial yang lahir dari budaya patriarki. Minimnya literasi gender serta rendahnya kesadaran moral sebagian masyarakat turut memperkuat ruang tumbuh bagi konten-konten yang mengeksploitasi tubuh perempuan demi hiburan dan perhatian publik.

Kondisi ini menunjukkan ironi besar dalam era digital. Alih-alih memperluas ruang aman dan kebebasan berekspresi, media digital kerap menjadi tempat berkembangnya budaya pelecehan dan standar ganda terhadap perempuan. Baik di ruang nyata maupun ruang maya, perempuan masih harus menghadapi ancaman verbal, seksual, hingga kekerasan berbasis gender yang terus direproduksi melalui konten-konten digital.

Oleh karena itu, literasi gender berbasis digital menjadi

kebutuhan yang mendesak. Masyarakat perlu diedukasi untuk memahami batas antara humor dan pelecehan, serta berhenti menormalisasi objektifikasi seksual dalam bentuk apa pun. Platform digital, kreator konten, dan pengguna media sosial juga memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman, sehat, dan berkeadilan bagi perempuan.

Ruang aman tidak akan pernah terwujud apabila budaya merendahkan perempuan terus dianggap biasa. Kesadaran kolektif, pendidikan gender, serta keberanian untuk melawan normalisasi pelecehan menjadi langkah penting dalam merebut kembali ruang digital yang aman dan manusiawi.