Scroll Untuk Lanjut Membaca

SUMBA TIMUR, BTN — Di balik megahnya kampung adat dan gagahnya kuda Sandel yang selama ini menjadi ikon Pulau Sumba, tersimpan kegelisahan besar masyarakat adat. Tradisi yang selama ratusan tahun menjadi simbol kehormatan dan spiritualitas perlahan mulai terdesak oleh perubahan zaman, tekanan ekonomi, hingga berkurangnya minat generasi muda menjaga warisan leluhur. 17/05/2026

Hasil investigasi Media BTN selama beberapa hari di sejumlah wilayah pedalaman Sumba menemukan bahwa keberadaan kuda Sandel dan kampung adat (paraingu) masih menjadi pusat kehidupan masyarakat. Namun di sisi lain, masyarakat mulai menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan nilai-nilai adat yang selama ini dijunjung tinggi.

“Kuda bukan hanya hewan ternak. Kuda adalah harga diri orang Sumba,” ungkap seorang tokoh adat di wilayah pedalaman Sumba Timur kepada Media BTN.

Bagi masyarakat Sumba, kuda Sandel bukan sekedar alat transportasi atau komoditas ekonomi. Kuda merupakan simbol kejantanan, kekayaan, dan alat pembayaran adat dalam belis perkawinan. Dalam banyak upacara adat, jumlah kuda yang dimiliki seseorang masih menjadi ukuran kehormatan keluarga.

Namun investigasi Media BTN menemukan, semakin banyak keluarga yang terpaksa menjual kuda mereka demi memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Harga kebutuhan hidup yang terus meningkat membuat sebagian warga tidak lagi mampu memelihara ternak dalam jumlah besar seperti masa lalu.

Di beberapa wilayah savana, jumlah kuda liar juga disebut mulai berkurang akibat perubahan pola pemeliharaan dan beralihnya masyarakat pada pekerjaan lain di luar sektor peternakan tradisional.

Sementara itu, paraingu atau kampung adat masih berdiri kokoh dengan rumah-rumah menara tinggi (uma mbatangu) yang menjadi simbol hubungan manusia dengan leluhur. Kampung adat menjadi tempat seluruh ritual kehidupan berlangsung, mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga kematian.

Namun hasil penelusuran Media BTN menemukan banyak rumah adat yang mulai mengalami kerusakan karena biaya perawatan yang sangat mahal. Kayu berkualitas semakin sulit didapat, sementara generasi muda banyak memilih merantau keluar daerah demi pendidikan dan pekerjaan.

“Anak-anak sekarang banyak pergi ke kota. Yang tinggal hanya orang tua. Kalau tidak dijaga bersama, budaya ini bisa perlahan hilang,” kata seorang tetua adat di kawasan Sumba Tengah.

Fenomena tersebut memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat adat bahwa suatu saat paraingu hanya akan menjadi objek wisata tanpa lagi memiliki kekuatan nilai spiritual seperti dahulu.

Meski demikian, masyarakat Sumba masih percaya bahwa budaya mereka belum akan hilang selama nilai penghormatan terhadap leluhur tetap diwariskan. Kuda Sandel dan paraingu diyakini akan terus hidup selama masyarakat tetap menjaga adat, tanah, dan ikatan kekeluargaan.

Budaya Sumba bukan hanya tentang tradisi masa lalu, tetapi tentang identitas dan cara hidup yang membentuk masyarakat hingga hari ini. Di tengah arus modernisasi, kuda Sandel dan kampung adat kini menjadi simbol perlawanan terakhir masyarakat adat untuk mempertahankan jati diri mereka.

Tim Investigasi Media BTN

#KudaSandel #Paraingu #Kaninumbaru #BudayaSumba #Sumba #MediaBTN

 

Piter: Kabiro Sumba Timur