​LOURA, Sumba Barat Daya, BTN – Di balik rimbunnya alam Kabupaten Sumba Barat Daya, terdapat sebuah pemukiman yang bukan sekedar tempat tinggal, melainkan jantung sejarah bagi masyarakat Loura. Kampung Wanno Bondo Kapubbu, sebuah kampung adat yang diyakini sebagai titik awal persebaran penduduk dan sistem kabisu (suku) di wilayah tersebut. 5/05/2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Berdasarkan penuturan Rato Adat setempat, Wanno Bondo Kapubbu memegang peranan krusial sebagai kampung tertua. Dari sinilah cikal bakal peradaban masyarakat Loura bermula, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai wilayah.

​Namun, signifikansi kampung ini tidak berhenti pada urusan silsilah leluhur. Wanno Bondo Kapubbu merupakan tanah kelahiran tokoh historis penting: Lede Kalumbang, Bupati pertama Sumba. Di kampung inilah, sang pionir lahir dan ditempa nilai-nilainya sebelum memimpin Pulau Sumba di masa awal pemerintahan.

​Kehidupan masyarakat Loura hingga kini masih dipandu oleh nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Sumber terpercaya menyebutkan bahwa filosofi Padamara dan Pataha Marapu menjadi kompas moral utama.

Harga diri, semangat gotong royong, dan penghormatan mendalam kepada leluhur bukan sekadar tradisi, melainkan pegangan hidup yang tak tergoyahkan,” ungkap sang Rato Adat.

​Segala urusan adat harus dilakukan secara paripurna berdasarkan aturan Huri Marapu. Mulai dari prosesi Belis (mas kawin), peran Wunang (juru bicara adat), hingga Yaigho (nyanyian ritual), semuanya memiliki tata cara ketat yang tidak boleh dilangkahi demi menjaga wibawa kabisu.

​Wilayah Loura sendiri merupakan rumah bagi 17 kabisu (suku) yang hidup berdampingan. Beberapa di antaranya merupakan suku besar seperti Kabisu Nataratana, Weelaingo, dan Keti.

​Satu hal unik yang tetap dipertahankan adalah prinsip “Kehadiran adalah Penghormatan”. Dalam setiap ritual adat, kehadiran fisik perwakilan setiap kabisu dianggap wajib dan tidak bisa digantikan hanya dengan materi atau sumbangan. Kehadiran tersebut dimaknai sebagai wujud nyata penghargaan kepada Sang Pencipta (Marapu) dan sesama manusia.

​Hingga detik ini, Kampung Wanno Bondo Kapubbu masih berdiri kokoh menjaga situs-situs adat dan tradisi peninggalan leluhur. Ia bukan sekedar artefak masa lalu, melainkan simbol identitas yang terus berdenyut di tengah arus modernisasi.