SUMBA BARAT DAYA, BTN — Visi “Membangun Desa, Menata Kota” yang diusung oleh Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Ngadu Bonu Wula, kini tengah mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Program yang awalnya digadang-gadang sebagai cetak biru pembangunan untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan tersebut, dinilai belum menyentuh secara nyata kehidupan warga di pelosok perdesaan. 12/07/2026
Fokus utama visi tersebut, yang sejatinya memperkuat kemandirian infrastruktur perdesaan guna mengentaskan kemiskinan ekstrem dan menurunkan angka stunting, berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Warga Desa Maliti Bondo Ate, Kecamatan Kodi Bangedo, mengaku hingga kini mereka masih harus bertahan di tengah keterbatasan fasilitas dasar yang sangat memprihatinkan.
Berdasarkan pantauan langsung awak media Berantas TipikorNews (BTN) di Kampung Ghodi Peha, potret kemiskinan infrastruktur terlihat begitu jelas. Ratusan Kepala Keluarga (KK) di kampung ini masih mendiami hunian yang masuk dalam kategori rumah kumuh dan jauh dari kata layak anak maupun sehat.
Salah seorang warga saat berbincang dengan media ini pada Kamis (9/7/2026) mengungkapkan kekecewaannya. Ia menagih janji Bupati SBD terkait pengadaan rumah layak huni dan jaringan listrik yang pernah disampaikan kepada warga, termasuk arahan untuk mengumpulkan Kartu Keluarga (KK) di Rumah Jabatan Bupati.
Demi menyambung hidup dan mendapatkan tempat bernaung, warga secara swadaya membentuk kelompok gotong royong. Menggunakan modal seadanya, mereka mendirikan rumah panggung mini berukuran 6×7 meter dengan material berupa kayu bulat sebagai tiang penyangga dan alang-alang sebagai atapnya.
Kondisi kontras ini sangat ironis jika menyelisih pilar kedua visi bupati, yakni “Menata Kota”, yang gencar melakukan modernisasi di pusat kota Tambolaka. Sementara estetika kota terus dipoles melalui ruang terbuka hijau dan perbaikan trotoar, masyarakat pelosok seperti di Desa Maliti Bondo Ate merasa dianaktirikan dari roda pembangunan.
Tak hanya masalah hunian dan listrik, urat nadi perekonomian warga berupa infrastruktur jalan juga dalam kondisi sekarat. Berdasarkan pantauan lanjutan media BTN pada Jumat (10/7/2026), jalur lintas kabupaten yang menghubungkan Desa Umbu Ngedo menuju Desa Maliti Bondo Ate mengalami kerusakan yang sangat parah.
Permukaan jalan kabupaten di wilayah Kecamatan Kodi Bangedo ini tampak hancur dan dipenuhi lubang-lubang besar yang menganga. Warga mengibaratkan kondisi jalan ini seperti produk pabrik yang sudah kedaluwarsa, yang tidak hanya menghambat mobilitas ekonomi tetapi juga mengancam keselamatan para pengguna jalan yang melintas.
Ironisnya, jalur yang rusak parah ini merupakan akses utama menuju destinasi internasional, yakni Kampung Wisata Ratenggaro. Sejumlah tokoh masyarakat setempat menegaskan bahwa Ratenggaro adalah situs budaya dan destinasi wisata terkenal yang telah mendunia serta menjadi magnet utama wisatawan mancanegara saat berkunjung ke Indonesia.
Menutup perbincangan, tokoh masyarakat setempat menyayangkan lambatnya respons pemerintah daerah terhadap ketimpangan ini. Ia menegaskan bahwa hampir 90 persen penduduk di Desa Maliti Bondo Ate masih menempati rumah kumuh, sebuah realita pahit yang menuntut pembuktian nyata dari reformasi birokrasi dan janji kesejahteraan bupati.






