Tambolaka, BTN — Lede Kalumbang Putra Loura tercatat dalam sejarah sebagai Bupati Sumba pertama sekaligus tokoh berpengaruh yang meletakkan fondasi pemerintahan modern di Pulau Sumba. 04/05/2026
Lede Kalumbang Putra Loura adalah putra daerah Loura. Sebelum Belanda masuk, Loura merupakan wilayah dengan banyak suku, termasuk 30 suku yang dikenal sebagai “klein” seperti Natara Tana, Bondo Buka, dan Wee Laingo. Sumba saat itu terkenal dengan cendana dan kekayaan alam lainnya.
Sejarah mencatat, sebelum Lede Kalumbang menjadi Bupati pertama, Sumba dipimpin beberapa raja atau yang disebut _zangadi_. Gollu Wolla I dari Natara Tana memerintah sejak 1901 dan meninggal tahun yang sama. Dari 1901–1907, pelayanan pemerintahan dijalankan oleh Umbu Kondi dari Buka Regha selaku karteker.
Karena terjadi gejolak akibat Buka Regha yang menjadi raja, pada 1907 Gollu Wolla I kembali menjalankan roda pemerintahan hingga wafat 1912. Ia diganti anaknya, Tokko Rua Kaweda atau Bulu Daga Ngara, yang memimpin 1912–1928.
Pada 1928, Tokko Kaweda wafat. Saat itu Lede Kalumbang belum dewasa dan masih sekolah di Payeti, Sumba Timur. Maka yang menjadi karteker adalah TT Geli selama 3 tahun. Pada 1932, TT Geli terkena kasus _blasting_ hingga masuk bui 3 tahun di Sumbawa Besar.
Akibat TT Geli dipenjara, muncul karteker kedua yakni Tokko Rua Kaka, ayah dari JM Mesa. Saat itu Lede Kalumbang belum tamat dari MILO. Tokko Rua Kaka menjabat karteker hingga Desember 1947.
Desember 1947, Lede Kalumbang pulang dari Sumba Timur usai menamatkan sekolah. Menurut sumber, ia dijemput di Tagjo Rara dan dipikul sejumlah masyarakat sambil menyebut: “Inilah raja kami.” Sejak itu, Lede Kalumbang diangkat jadi Raja di Rada Mata. Tokko Rua Kaka disebut menghilang karena takut ditekan.
Dari 1947–1952, masa kerajaan berakhir dan Provinsi NTT berdiri. Lede Kalumbang menjabat sebagai KPS/Kepala Pemerintahan Setempat hingga 1958. Tahun 1958, Sumba dibagi dua: Sumba Timur dan Sumba Barat. Terbentuklah Badan Pengurus Harian. Calon BPH saat itu ada dari Ana Kalang, Wano Kaka, Kodi, dan Loura. Meski suhu politik tinggi, Lede Kalumbang terpilih.
Pada 3 Februari 1961, Lede Kalumbang pergi rapat di Kupang. Ia tiba-tiba terhuyung dan jatuh sakit. Tanggal 2 April 1961, ia kembali berangkat ke Kupang karena Lala Mentik akan dilantik jadi Gubernur pertama NTT. Rombongan terdiri dari Umbu Remu, Lede Kalumbang, Bulu Dairo, Kornelis Malo, dan Kana Djara.
Siang itu mereka singgah di Maumere memuat jambu mete untuk dibawa ke Makassar. Dini hari sekitar pukul 02.00 WITA, kapal bertolak dari Maumere menuju Kupang. Di perairan Laut Sabu, Lede Kalumbang kembali merasakan sakit akibat radang. Ia tak berdaya hingga meninggal dunia di Sabu pada 3 April 1961.
Lede Kalumbang disebut memimpin sebagai raja pada 1927–1952 dan meninggalkan jasa besar meski menghadapi banyak tantangan. Sumber menyebut Lede Kalumbang dikenal karena keberaniannya mengubah nama dan budaya Sumba. Ia bekerja sama dengan orang Jawa mendatangkan kain kavan dan melarang budaya yang tidak menguntungkan. Ia juga dikenal cinta olahraga tinju dan pandai mendidik hewan.
Setelah Lede Kalumbang wafat, ia digantikan oleh Kana Djara. Kisah hidupnya kini menjadi bagian penting sejarah pemerintahan di Sumba.
**** Berantas TipikorNews Co.id ****






