SUMBA TIMUR,BTN 4 Maret 2026 — Sebuah langkah besar untuk menjaga identitas budaya Nusantara dimulai dari ujung timur Pulau Sumba. Kampung Adat Wunga, yang secara historis diyakini sebagai pemukiman pertama nenek moyang orang Sumba, akan segera dipugar. Inisiatif ini bertujuan untuk menyelamatkan warisan leluhur yang mulai tergerus usia sekaligus memposisikan Sumba Timur sebagai destinasi utama pariwisata berbasis kearifan lokal.
Rencana besar ini diinisiasi oleh putra daerah sekaligus Anggota DPR RI Dapil NTT, Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga. Dalam kunjungan lapangan pada 1 Maret 2026, Umbu Kabunang meninjau langsung kondisi kampung yang terletak di Desa Wunga, Kecamatan Haharu tersebut.
Dalam pertemuan hangat bersama tokoh adat dan masyarakat setempat, Umbu Kabunang menegaskan bahwa pemugaran ini bukan sekedar pembangunan fisik, melainkan upaya menjaga kesucian tradisi. Ia berkomitmen untuk membangun kembali delapan unit rumah adat dalam waktu dekat.
”Pembangunan ini akan sepenuhnya menggunakan bahan-bahan alami dari alam,kayu, bambu, dan ilalang,bukan material modern seperti baja. Kita harus menjaga keaslian material agar roh dan nilai budaya Sumba tetap hidup di setiap jengkal bangunan ini,” ujar Umbu Kabunang.
Kunjungan tersebut didampingi oleh rombongan sekitar 15 orang. Menurut penuturan Handalar Handaddik yang turut berada di lokasi, antusiasme masyarakat sangat besar mengingat kondisi kampung saat ini memang membutuhkan perhatian serius agar tidak hilang ditelan zaman.
Kepala Desa Wunga, Kalendi Nggalu Amah, menyambut haru rencana ini. Baginya, Wunga bukan sekedar desa, melainkan “Rumah Besar” bagi seluruh orang Sumba. Di sana terdapat situs batu kubur leluhur yang telah berusia ratusan tahun.
Berdasarkan tutur lisan para tetua adat (Rato), Wunga adalah tempat pertama mendaratnya nenek moyang Sumba dari India Belaka. Hal ini tertuang dalam ungkapan adat.
“Malaka Tana Bhara Kataka Lediwacu” (Tempat pertama nenek moyang tiba, membangun kampung, dan mendirikan rumah).
Mengingat skala pemugaran yang besar dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, keberhasilan proyek ini memerlukan sinergi lintas sektor. Pemerintah Desa berharap adanya dukungan penuh dari Dinas Pariwisata dan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur.
Selain itu, karena Wunga memiliki nilai historis bagi seluruh orang Sumba, diharapkan adanya semangat gotong royong dari masyarakat lintas suku dan Kabhisu (klan) di seluruh daratan Sumba.
Pemugaran ini diproyeksikan akan memberikan dampak ganda (multiplier effect) Menyelamatkan arsitektur vernakular Sumba yang unik.
Menjadikan Wunga sebagai museum hidup yang menarik wisatawan mancanegara dan domestik.
Membuka lapangan kerja bagi pengrajin lokal dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis desa.
Dengan dimulainya langkah ini, Kampung Adat Wunga bersiap menyongsong masa depan tanpa meninggalkan akar sejarahnya, memastikan bahwa identitas “Sumba Asli” tetap tegak berdiri di tengah arus modernisasi.
Piter Soko pare,Kabiro






