LUWUK, BTN — Di balik setiap ompreng makanan bergizi yang tersaji di meja anak-anak sekolah, ada tetes keringat, ketulusan, serta perjuangan luar biasa yang kerap tak tersorot kamera. Perairan dari Luwuk menuju Banggai Kepulauan yang bergolak akibat cuaca buruk menjadi saksi bisu betapa tingginya dedikasi Tim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banggai Kepulauan Peling Tengah. 1/09/2026
Tanpa sepatah kata keluhan, para pejuang gizi ini terus melangkah menembus batas demi menuntaskan misi kemanusiaan bagi generasi penerus bangsa. Menjelang pendistribusian pada Rabu (02/09/2026), mereka harus bertaruh dengan keganasan alam agar pasokan nutrisi anak-anak sekolah di pelosok kepulauan tetap terpenuhi tanpa hambatan.
Tantangan berat langsung menyapa ketika kapal penyeberangan yang semula dijadwalkan bertolak dari Pelabuhan Luwuk menuju Pelabuhan Luk Panenteng terpaksa membatalkan pelayaran. Keputusan tegas itu diambil otoritas pelabuhan akibat gelombang tinggi yang terlampau berisiko bagi keselamatan pelayaran.
Namun, bagi Tim SPPG Banggai Kepulauan Peling Tengah, memutar balik haluan atau menyerah pada keadaan bukanlah sebuah pilihan. Demi memastikan pasokan bahan baku pangan tetap segar dan tiba tepat waktu, tim mengambil keputusan cepat dengan mengalihkan rute pengiriman melalui jalur Salakan—sebuah langkah berani yang menuntut stamina serta pengorbanan ekstra.
Di tengah guncangan ombak dan lautan yang tak bersahabat, terpancar pemandangan haru yang memperlihatkan semangat gotong-royong murni. Para petugas SPPG bersama awak kapal bahu-membahu memindahkan puluhan boks pendingin (cooler box) berisi bahan pangan segar dari satu armada ke armada lainnya secara manual.
Bagi mereka, setiap boks berat yang diangkat dari dek kapal bukan sekedar beban fisik, melainkan amanah besar yang memikul masa depan anak-anak di Peling Tengah. Kualitas dan kesegaran bahan makanan dijaga mati-matian agar kandungan gizinya tidak rusak sedikit pun selama proses perpindahan di tengah cuaca ekstrem.
Meski harus menempuh rute memutar yang jauh lebih panjang dan dihadapkan pada risiko keterlambatan tiba di titik bongkar muat, raut lelah di wajah para pejuang gizi ini langsung terhapus oleh semangat yang menyala. Senyum optimistis tetap terpancar dari setiap personel yang bertugas di lapangan.
”Tantangan di laut adalah ujian ketulusan kami. Tidak ada kata mengeluh, karena di dalam setiap boks ini ada harapan dan hak gizi anak-anak kita. Ombak boleh bergulung kencang, tetapi semangat dan tekad kami untuk menjalankan misi kemanusiaan ini tak akan pernah bisa digoyahkan,” tegas Yola, perwakilan SPPG Peling Tengah.
Atas situasi darurat alam tersebut, SPPG Peling Tengah menyampaikan permohonan doa sekaligus pengertian yang mendalam dari pihak sekolah, para guru, dan masyarakat di Peling Tengah atas adanya penyesuaian jadwal distribusi pada Rabu (02/09/2026).
Tim berjanji, setibanya bahan baku di dapur pelayanan pusat, proses pengolahan akan langsung digenjot secara maksimal dengan mengerahkan seluruh sumber daya. Hal ini dilakukan demi memastiikan sajian makanan bergizi terbaik tetap siap disajikan dan sampai ke tangan para siswa tepat pada waktunya.
Oleh: JEIN BTN






