SUMBA TIMUR, NTT, BTN — Keluhan tenaga kesehatan di wilayah selatan Kabupaten Sumba Timur kembali menyoroti persoalan serius buruknya akses jalan dan jembatan. Kondisi tersebut semakin menyulitkan pelayanan kesehatan, terutama ketika musim hujan tiba. Selasa 25/08/2026
Beberapa petugas kesehatan saat dikonfirmasi Media Berantas Tipikor New mengungkapkan bahwa mereka berada dalam posisi yang serba sulit. Di satu sisi, tenaga kesehatan dituntut memberikan pelayanan cepat dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Namun di sisi lain, akses jalan dan jembatan justru menjadi penghambat utama.
“Bagaimana kami bisa cepat membantu orang sakit yang membutuhkan bantuan kami, sementara jalan dan jembatan seperti ini? Mobil ambulans sendiri tidak bisa lewat. Sementara kami dituntut untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” ungkap salah seorang petugas kesehatan.
Keluhan tersebut menggambarkan persoalan yang tidak boleh dianggap sepele. Ketika ambulans tidak dapat melintas akibat kondisi jalan maupun jembatan, masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis dalam keadaan darurat berpotensi kehilangan waktu yang sangat berharga.
Tenaga kesehatan pun berada di garis depan pelayanan, tetapi mereka tidak mungkin bekerja maksimal apabila infrastruktur dasar menuju masyarakat masih sulit dilalui.
Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sumba Timur bersama dinas terkait. Pembangunan dan perbaikan jalan serta jembatan bukan hanya menyangkut akses transportasi, tetapi juga menyangkut akses terhadap keselamatan dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Program mendekatkan pelayanan kesehatan ke masyarakat akan sulit mencapai hasil maksimal apabila kendaraan pelayanan, termasuk ambulans, tidak mampu menjangkau wilayah yang membutuhkan pertolongan.
Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dari sisi tenaga medis dan fasilitas kesehatan. Akses menuju fasilitas kesehatan dan kemampuan ambulans menjangkau pasien juga harus menjadi bagian dari ukuran keberhasilan pelayanan publik.
Pertanyaannya kini semakin tegas: bagaimana masyarakat di wilayah selatan bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat jika ambulans saja tidak mampu melewati jalan dan jembatan yang ada?
Persoalan ini membutuhkan jawaban dan tindakan nyata, bukan sekedar janji. Sebab bagi masyarakat di pelosok, jalan dan jembatan yang layak bukan kemewahan—melainkan bagian dari kebutuhan dasar untuk mendapatkan pertolongan ketika nyawa dipertaruhkan.






