WAINGAPU, Sumba Timur –BTN 12/01/2026- Janji kenyamanan infrastruktur tampaknya masih menjadi mimpi buruk bagi warga RT 24 RW 06, Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera. Alih-alih mengalirkan air dengan benar, saluran irigasi di wilayah tersebut justru berubah menjadi ancaman setiap kali hujan mengguyur. Akibat buruknya sistem pengairan ini, pemukiman warga konsisten terendam, memicu tanda tanya besar terkait kinerja instansi teknis di Kabupaten Sumba Timur.
Jeritan warga seperti tak terdengar oleh pemerintah daerah. Agustina Alu Raja, salah satu warga terdampak, mengungkapkan kekecewaannya karena rumah mereka seolah sudah “dijadwalkan” untuk banjir.
“Kami punya rumah sering terendam air saat hujan. Kami minta perhatian serius dari Pemerintah Daerah, khususnya instansi teknis. Jangan biarkan kami terus-menerus jadi korban,” tegas Agustina dengan nada getir kepada media BTN.
Kritik tajam juga datang dari Ketua RT 24. Ia menilai kondisi ini adalah dampak dari pembiaran infrastruktur yang tidak memadai. Ia menegaskan bahwa perbaikan tambal sulam tidak akan menyelesaikan masalah.
“Kondisi saluran pembuangan ini wajib dibuat permanen! Jika pemerintah terus menunda atau hanya sekedar meninjau tanpa eksekusi, maka setiap musim hujan warga kami akan terus menjadi korban kegagalan sistem pengairan ini,” ujarnya lugas.
Publik kini menunggu keberanian dan tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum atau instansi pengairan terkait. Apakah mereka akan terus membiarkan saluran irigasi ini menjadi “teror” bagi warga Kambaniru, atau akhirnya menunjukkan taji dengan melakukan perbaikan permanen?
Keamanan dan keselamatan warga adalah hukum tertinggi. Pembiaran terhadap infrastruktur yang merugikan rakyat bisa dipandang sebagai bentuk ketidakmampuan birokrasi dalam merespons kebutuhan mendasar masyarakat di Sumba Timur.
Kontributor: Piter Kabiro
Redaksi: Media BTN Waingapu






