Scroll Untuk Lanjut Membaca

​PELING TENGAH, BTN — 24 Maret 2026 – Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sekedar bersabar; itu adalah satu dekade pengabaian sistematis. Bagi masyarakat di enam desa wilayah Peling Tengah—Patukuki, Tombos, Luk, Tunggaling, Popisi, dan Tolulos—kalender hanyalah angka yang berganti, sementara martabat mereka tergilas di jalanan yang hancur lebur.

​Di wilayah ini, rakyat dipaksa “menelan” debu pekat saat kemarau dan bertaruh nyawa di atas kubangan lumpur serupa kubangan kerbau setiap kali hujan turun.

​Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi, akses pendidikan, dan keselamatan nyawa (kesehatan), kini tak lebih dari jalur isolasi yang mematikan potensi daerah. Hutang pembangunan yang tak kunjung dilunasi oleh pemerintah daerah selama sepuluh tahun terakhir kini telah bermutasi menjadi sebuah “Hutang Peradaban” yang memalukan.

Janji yang Membusuk: Setiap musim politik, aspal dijanjikan setebal harapan warga. Namun pasca-pemilu, janji itu menguap begitu saja, meninggalkan rakyat dalam kepungan infrastruktur purbakala di tengah klaim kemajuan zaman.

Diskriminasi Pembangunan: Warga Peling Tengah mulai menggugat apakah pajak mereka tidak cukup untuk membiayai satu kilometer aspal? Ada aroma ketidakadilan yang menyengat ketika wilayah lain bersolek dengan anggaran fantastis, sementara enam desa ini dibiarkan “dianak-tirikan” dalam kegelapan pembangunan.

Taruhan Nyawa: Anak sekolah harus bertarung dengan medan ekstrem, ibu hamil berisiko tinggi saat harus dirujuk ke fasilitas kesehatan, dan hasil bumi petani membusuk karena biaya angkut yang mencekik akibat jalan yang hancur.

​Kami tidak butuh pidato manis atau kunjungan kerja formalitas yang hanya sekedar lewat untuk memotret kemiskinan kami,” tegas suara kolektif warga. Masyarakat Peling Tengah hari ini tidak lagi meminta belas kasihan, melainkan menuntut hak konstitusional mereka yang telah dirampas oleh kelalaian birokrasi.

​Pemerintah Daerah hari ini, ditantang untuk menunjukkan keberanian politiknya. Apakah mereka akan terus memelihara jalan rusak ini sebagai monumen kegagalan kepemimpinan, atau akhirnya melunasi hutang sejarah kepada rakyat Peling Tengah sebelum kesabaran warga benar-benar habis?

Audit Transparansi: Kami menuntut kejelasan ke mana larinya anggaran pemeliharaan jalan untuk wilayah Peling Tengah selama 10 tahun terakhir.

Masih Tidak Percaya: Tanpa adanya realisasi pengaspalan tahun ini, warga menyatakan masih tidak percaya terhadap setiap janji politik yang masuk ke wilayah Peling Tengah.

Aksi Massa: Jika dalam waktu dekat tidak ada alat berat yang turun ke lokasi, warga enam desa siap melakukan konsolidasi besar-besaran untuk menuntut hak mereka di depan gedung kekuasaan.