BULAGI – Bangkep-BTN 12/03/2026-Dunia maya kembali dihebohkan oleh sebuah drama murahan yang berpotensi mencederai program nasional. Sebuah postingan dari akun bernama Ammora Marchia mendadak viral setelah mencoba “menelanjangi” kualitas paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh SPPG Bulagi I. Namun, alih-alih menjadi pahlawan bagi masyarakat, postingan tersebut justru terindikasi kuat sebagai fitnah murahan yang tidak berdasar.
Dalam unggahannya, Ammora Marchia dengan nada provokatif memamerkan paket makanan yang menyertakan buah jambu air berukuran kerdil. Dengan gaya bahasa yang “sok” peduli, ia menghujat pihak penyelenggara dengan tuduhan memberikan makanan asal-asalan, bahkan sampai membawa-bawa narasi “Zalim” di tengah bulan suci.
Namun, tajamnya kritik tersebut ternyata hanyalah ilusi. Pihak SPPG Bulagi I dengan sigap melakukan tamparan keras melalui klarifikasi resmi. Mereka menegaskan bahwa buah yang difotokan sangat tidak sesuai dengan menu resmi yang disalurkan pada hari tersebut. Fakta ini membuktikan adanya upaya manipulasi informasi yang bisa memicu kegaduhan publik.
Setelah mendapatkan tekanan publik dan ancaman klarifikasi langsung, pemilik akun akhirnya “angkat tangan” dan mengakui dosa informasinya. Alibi yang digunakan pun cukup klasik: “Ada orang iseng yang mengganti rambutan dengan jambu air.”
Tindakan serampangan mengunggah konten tanpa kroscek (check and re-check) ini merupakan bentuk degradasi moral oknum pengguna media sosial. Di saat pemerintah dan instansi terkait berupaya memperbaiki gizi anak bangsa, justru muncul “tangan-tangan kotor” yang mencoba melakukan pembunuhan karakter demi konten atau sekadar iseng.
Kasus ini menjadi cermin retak dunia digital kita. Bagaimana mungkin sebuah akun bisa dengan begitu beraninya menyebar narasi negatif tanpa dasar fakta yang kuat? Ini bukan sekedar masalah “iseng”, melainkan sebuah kejahatan intelektual yang mencederai etika komunikasi publik.
Netizen pun geram. Berbagai komentar pedas menghujani akun tersebut, mulai dari tuduhan penyebar fitnah hingga peringatan keras tentang dosa di bulan yang suci. Publik bertanya-tanya. Sampai kapan perilaku “asal posting” ini dibiarkan merusak nama baik lembaga dan program pemerintah?
Kejadian di Bulagi I ini harus menjadi pelajaran pahit bagi siapa pun. Jangan mencoba bermain api dengan memanipulasi fakta program publik. Pihak berwenang dan aparat penegak hukum diharapkan tidak tinggal diam jika ditemukan unsur kesengajaan untuk menghasut atau melakukan pencemaran nama baik demi kepentingan tertentu.
Stop Hoaks, Stop Manipulasi! Publik Butuh Fakta, Bukan Drama Jambu Air.
Berita ini disusun berdasarkan data klarifikasi resmi dan dinamika media sosial yang berkembang. Kami mendukung penuh transparansi, namun mengecam keras segala bentuk fitnah.
Jein






