Scroll Untuk Lanjut Membaca

​ACEH SINGKIL, BTN — Fakta baru yang mengejutkan kembali terungkap dalam kasus pengeroyokan wartawan di area Perkebunan Kelapa Sawit (PKS) PT SSM, Desa Mandumpang, Kecamatan Suro. Insiden kekerasan yang terjadi pada Senin (7/9/2026) tersebut rupanya tidak hanya menimpa Soar Manik dan rekannya, tetapi juga memakan korban jurnalis lainnya. 22/09/2026

​April Siregar, wartawan media online Barak1News.com, mengonfirmasi bahwa dirinya turut menjadi korban tindak kekerasan saat sedang bertamu ke lokasi tersebut. Dalam keterangannya pada Senin (21/9/2026), April menyoroti tajam kinerja Standar Operasional Prosedur (SOP) pengamanan internal perusahaan yang dinilai gagal total dalam menjamin keselamatan tamu.

​Menurutnya, jajaran satuan pengamanan (Satpam) PT SSM seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberikan perlindungan dan menjaga kondusivitas area. Sesuai dengan prosedur baku keselamatan, Satpam wajib melakukan tindakan pengamanan aktif dan segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian begitu indikasi keributan mulai memanas.

​”Satpam seharusnya menjalankan SOP dengan benar, tindakan paling awal adalah memanggil polisi untuk mengamankan situasi. Setiap tamu yang datang ke area PKS berhak mendapatkan perlindungan, bukan malah dibiarkan menjadi sasaran pengeroyokan,” tegas April saat memberikan keterangannya.

​Kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik dengan fungsi pengamanan yang seharusnya. Dugaan tindakan pembiaran oleh oknum Satpam PT SSM ini membuat aksi pengeroyokan berlangsung tanpa hambatan, hingga akhirnya kasus dugaan tindak pidana kekerasan ini resmi bergulir ke ranah hukum di Polres Aceh Singkil.

​Kejanggalan dalam kasus ini semakin menguat seiring dengan misteri hilangnya rekaman CCTV yang terpasang di Pos Satpam PT SSM. Padahal, rekaman video dari kamera pengawas tersebut merupakan alat bukti elektronik yang sangat vital untuk mengidentifikasi secara terang-benderang para pelaku utama pengeroyokan.

​Situasi di lokasi kejadian diyakini kian memprihatinkan lantaran peran Humas PT SSM, Sahala Cibro. Bukannya mengambil langkah untuk melerai atau meredam bentrokan sesuai SOP manajemen krisis perusahaan, Sahala Cibro yang berada di tempat kejadian perkara (TKP) justru diduga kuat sibuk mengabadikan aksi kekerasan tersebut menggunakan kamera ponselnya.

​Atas rentetan kejanggalan dan tindakan kekerasan yang menimpa insan pers ini, para korban mendesak Kapolres Aceh Singkil untuk bergerak cepat dan mengusut tuntas seluruh pihak yang terlibat. Penyelidikan diharapkan tidak hanya berfokus pada eksekutor lapangan, tetapi juga mengusut dugaan kelalaian dan keterlibatan oknum internal perusahaan.

​Secara khusus, jajaran kepolisian diminta segera memeriksa jajaran Satpam terkait pembiaran SOP, mendalami penyebab hilangnya rekaman CCTV Pos Satpam, serta memeriksa peran Humas PT SSM atas aksinya merekam kejadian tanpa upaya pencegahan. Hingga berita ini diterbitkan, Sahala Cibro selaku Humas PT SSM belum memberikan konfirmasi maupun keterangan resmi terkait insiden tersebut.