LUWUK BANGGAI, BTN 25 MARET 2026 – Praktik lancung dugaan mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar di SPBU Bunga, Luwuk Banggai, kini mencapai titik nadir yang memuakkan. Fasilitas publik yang seharusnya menjamin distribusi energi bagi rakyat kecil, disinyalir kuat telah beralih fungsi menjadi “surga” bagi para oknum penimbun yang merampok jatah solar bersubsidi secara terang-terangan di depan mata publik.
Pantauan investigasi di lapangan menyuguhkan pemandangan yang menyayat hati sekaligus memancing amarah. Para sopir truk logistik dan angkutan umum harus rela “bersusah payah” mengantre berjam-jam, terjebak dalam barisan panjang yang melelahkan hanya untuk mendapatkan tetes demi tetes solar. Ironisnya, di tengah keputusasaan para pencari nafkah ini, para “mafia penimbun” justru tampak melenggang kangkung menguasai nosel pengisian, seolah SPBU tersebut adalah milik pribadi mereka.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar Ke mana perginya Satgas Migas? Apakah mereka tidak melihat, atau sengaja menutup mata atas penguasaan sepihak para mafia ini? Rakyat sudah muak dengan retorika pengawasan jika pada praktiknya, solar bersubsidi justru mengalir deras ke tangki-tangki siluman penimbun, sementara kendaraan produktif mati suri di pinggir jalan.
”Jangan biarkan SPBU Bunga menjadi negara di dalam negara yang dikendalikan oleh kekuatan mafia. Kami mendesak dengan sangat tegas kepada Satgas Migas,Tangkap dan tindak tanpa ampun para penguasa BBM ilegal ini! Jangan jadikan jabatan dan kewenangan hanya sebagai pajangan di saat hak rakyat dirampas,” tegas laporan tim investigasi media ini.
Sulit dipercaya jika praktik kasat mata ini berlangsung tanpa sepengetahuan pengelola atau pengawas lapangan SPBU Bunga. Dugaan adanya “main mata” antara oknum petugas SPBU dengan para penimbun semakin menguat seiring dengan dibiarkannya kendaraan-kendaraan tertentu mendominasi pengisian secara berulang (langsir).
Ini bukan sekedar masalah teknis antrean, melainkan indikasi kejahatan ekonomi yang terstruktur. Jika aparat terus berdiam diri, maka publik berhak berasumsi bahwa ada “restu” di balik kekacauan ini.
Media ini tetap menjunjung tinggi asas keberimbangan. Hingga naskah ini naik tayang, redaksi terus berupaya keras melakukan upaya konfirmasi kepada pihak pengawas SPBU Bunga maupun pihak Pertamina terkait.
Satu hal yang pasti,Media ini akan tetap berdiri di garis depan, mengawal kasus ini hingga tuntas, sampai hukum tegak dan solar kembali menjadi hak rakyat, bukan lagi menjadi jarahan para mafia rakus.
Redaksi






