PATI – BTN 08/01/2026-Aroma ketidakadilan kembali menyerbak di depan Pengadilan Negeri (PN) Pati, Rabu (7/1). Di tengah hiruk-pikuk sidang aktivis Teguh Istiyanto dan Supriono alias Botok, sebuah insiden memuakkan terekam kamera,mobil tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati diduga kuat melanggar rambu lalu lintas, menyerempet seorang pengendara motor wanita hingga terkapar, dan tanpa nurani melaju pergi begitu saja.
Insiden ini terjadi tepat di bawah hidung aparat, yakni di area larangan putar balik di depan PN Pati. Mobil tahanan yang mengangkut Teguh dan Botok usai sidang eksepsi tersebut diduga nekat menerjang rambu larangan demi menghindari kerumunan massa.
Nahas, manuver gegabah tersebut berujung celaka. Seorang pengendara wanita terjatuh dan tergeletak di aspal setelah bersenggolan dengan kendaraan milik negara tersebut. Namun, alih-alih berhenti untuk memberikan pertolongan,sebagaimana kewajiban hukum setiap pengemudi,mobil tahanan itu justru tancap gas tanpa menghiraukan korban yang kesakitan.
Kejadian ini memicu kritik pedas dari publik. Bagaimana mungkin sebuah instansi yang bertugas melakukan penuntutan hukum justru mempertontonkan tindakan yang diduga melanggar hukum (tabrak lari dan pelanggaran rambu)?
”Ini potret nyata arogansi di jalan raya. Mobil tahanan itu membawa orang yang didakwa melanggar hukum, tapi di saat yang sama, pengemudinya justru diduga melanggar hukum dengan mengabaikan keselamatan warga sipil,” ujar salah satu warga di lokasi kejadian.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepolisian Resor Pati maupun Kejaksaan Negeri Pati masih memilih bungkam seribu bahasa. Belum ada pernyataan resmi terkait kondisi korban yang terkapar, maupun pertanggungjawaban atas tindakan sopir mobil tahanan tersebut.
Sikap diam ini justru memperkeruh suasana dan memicu kecurigaan publik, apakah hukum hanya tajam kepada aktivis seperti Teguh dan Botok, namun tumpul dan “maklum” jika pelakunya adalah bagian dari institusi penegak hukum itu sendiri?
Sidang kedua dengan agenda pembacaan eksepsi ini awalnya sudah tensi tinggi dengan kawalan ratusan massa. Namun, insiden “serempet lari” ini kini menjadi sorotan utama yang jauh lebih krusial. Publik menuntut transparansi.
Siapa pengemudi mobil tahanan tersebut?
Mengapa mobil tetap melaju saat ada korban jatuh?
Akankah polisi berani menindak tegas oknum Kejari tersebut sebagaimana mereka menindak warga biasa?
Masyarakat menunggu nyali aparat untuk mengusut tuntas insiden ini. Jangan sampai slogan “Hukum adalah Panglima” hanya menjadi jargon kosong di atas aspal jalanan Pati yang hari ini bersimbah ketidakadilan.
Penulis: Pujiono
Editor: (pimred)






