BANGKEP BTN – 23/10/2025-Upaya ‘cuci tangan’ Direktris CV Banggai Cemerlang, Fanny Gonero, terkait kisruh proyek tanggul Desa Tombos dinilai sebagai manuver yang dangkal dan tak kooperatif.Alih-alih menghadapi fakta lapangan yang disajikan Berantastipikornews.co.id, Gonero justru ‘lari’ mencari panggung di media lain.
Sikap ini dinilai sebagai puncak ketidakprofesionalan dan terindikasi kuat hanya sebagai drama mencari pembenaran yang justru menelanjangi kebobrokan di balik klaim ‘sesuai prosedur’.
Pimpinan Redaksi Berantastipikornews.co.id, Hermanius Burunaung, dengan tegas menepis setiap bantahan Fanny Gonero. Jika memang pembangunan tanggul tersebut telah “sesuai prosedur”, lantas mengapa suara-suara sumbang dari para pekerja.yang notabene adalah saksi hidup di lapangan,justru muncul ke permukaan?
“Kami tegaskan, setiap yang kami publish adalah fakta di lapangan, bukan isapan jempol atau hoaks!” ujar Hermanius dengan nada tajam. “Klaim Direktris yang menepis isu miring, justru menunjukkan ketidakkooperatifan. Mereka memilih klarifikasi di luar, seolah-olah berupaya membuang isu dan meyakinkan publik bahwa semua ‘sudah sesuai prosedur’.”
Manipulasi Visual dan Klaim “Sesuai Prosedur” yang Penuh Keganjilan
Taktik Fanny Gonero tidak hanya berhenti pada narasi semata.
Hermanius bahkan menyoroti penggunaan visual yang dinilai menyesatkan. “Sementara itu, foto-foto yang mereka pajang terkesan jelas-jelas membohongi publik! Ini bukan hanya soal narasi, tapi juga manipulasi visual untuk menutupi kondisi sebenarnya di lapangan,” cetus Hermanius, menyorot dugaan rekayasa citra demi membangun persepsi positif yang semu.
Bantahan Fanny Gonero terkait isu minimnya Alat Pelindung Diri (APD) bagi pekerja dibantah keras oleh Hermanius. Data lapangan Berantastipikornews.co.id tak terbantahkan.
“Isu terkait pekerja tidak menggunakan APD itu adalah fakta otentik! Bahkan, pengakuan dari para pekerja mengenai janji pengukuran nomor kaki yang sudah dua hingga tiga minggu tidak terealisasi, kami dapatkan murni dari wawancara video di lokasi,” tegas Hermanius.
Lebih lanjut, ia menyoroti istilah “tambal sulam” yang muncul dalam pemberitaan. Istilah itu, menurut Hermanius, bukan rekayasa tim investigasi, melainkan bahasa asli yang disampaikan oleh para pekerja yang diwawancarai. Sebuah terminologi yang secara gamblang mencerminkan kualitas dan metode kerja yang jauh dari kesan ‘prosedural’ dan ‘cemerlang’.
Jika memang sudah sesuai prosedur, mengapa masih terdapat keluhan para pekerja? Dan mengapa pula harus memajang foto yang terkesan memanipulasi realitas? Inilah pertanyaan krusial yang harus dijawab oleh CV Banggai Cemerlang, alih-alih berlindung di balik klarifikasi seremonial dan pencitraan palsu.
Bukti Konfirmasi Diabaikan, Direktris Justru “Tebar Isu” di Media Lain
Menanggapi potensi klaim ketidakprofesionalan,Hermanius Burunaung membeberkan bukti upaya konfirmasi yang telah dilakukan sebelum berita tayang.
“Kami sudah berusaha menghubungi Direktur (Fanny Gonero) melalui Nomor WhatsApp [+62 823-9488-0888] dan telepon daring. Akan tetapi, tidak diindahkan atau tidak diangkat!” jelasnya.
Sikap Direktris yang menutup diri dari media yang memberitakan (Berantastipikornews.co.id) namun kemudian memilih bermanuver dengan melakukan klarifikasi di media lain, dinilai sebagai langkah pengecut.
“Kami menilai Direktris CV Banggai Cemerlang hanya cari pembenaran dengan tebar isu di media lain agar terlihat jelas kami tidak profesional. Ini adalah upaya untuk mendistorsi fakta,” kritik Hermanius tajam. “Seharusnya, jika mau klarifikasi, sampaikanlah melalui media yang menyajikan pemberitaan proyek di Tombos. Kami bekerja sesuai fakta di lapangan!”
Sikap tidak kooperatif Fanny Gonero, yang memilih klarifikasi di luar arena perdebatan fakta, justru semakin memperkuat dugaan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dalam pekerjaan tanggul Desa Tombos.
Klaim “sesuai prosedur” CV Banggai Cemerlang kini berada di bawah bayang-bayang keluhan pekerja, manipulasi visual, dan bukti lapangan yang tak terbantahkan.






