SUMBA, BTN — Peringatan 145 tahun masuknya Injil di Tanah Sumba tidak semata menjadi momentum mengenang sejarah penyebaran agama Kristen di Pulau Sumba. Lebih dari itu, perayaan ini menjadi ajakan untuk menilai kembali sejauh mana nilai-nilai kasih, pelayanan, dan kepedulian sosial yang diwariskan selama hampir satu setengah abad telah berakar dalam kehidupan masyarakat Sumba. 10/06/2026
Tahun ini, masyarakat Bumi Humba memperingati 145 tahun perjalanan Injil sejak pertama kali diberitakan di pulau yang dikenal dengan bentangan sabana, budaya Marapu, dan tradisi megalitiknya. Dalam rentang waktu tersebut, Injil tidak hanya hadir sebagai ajaran keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi sosial yang turut memengaruhi perkembangan pendidikan, kesehatan, dan kehidupan kemasyarakatan.
Sejarah mencatat bahwa masuknya Injil ke Sumba menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan masyarakat menuju perubahan sosial yang lebih luas. Kehadiran para pekabar Injil membuka akses pendidikan bagi masyarakat, melahirkan berbagai lembaga sosial, serta memperkenalkan nilai-nilai yang mendorong penghargaan terhadap martabat manusia.
Namun, peringatan 145 tahun ini tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Tantangan yang dihadapi masyarakat Sumba saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Kemiskinan, stunting, kerusakan lingkungan, putus sekolah, hingga persoalan migrasi tenaga kerja masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian bersama.
Dalam konteks itulah, semangat Injil menemukan relevansinya. Nilai kasih yang selama ini dikhotbahkan harus hadir dalam bentuk nyata melalui keberpihakan kepada kelompok rentan, pelayanan yang membebaskan, dan solidaritas terhadap masyarakat yang masih hidup dalam berbagai keterbatasan.
Di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi yang semakin kuat, generasi muda Sumba juga menghadapi tantangan baru berupa krisis identitas, menurunnya kepedulian sosial, serta terkikisnya nilai-nilai budaya lokal. Karena itu, momentum 145 tahun Injil di Tanah Sumba perlu dimaknai sebagai panggilan untuk membangun generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan kepekaan sosial.
Selain persoalan sosial, isu lingkungan menjadi perhatian yang tidak kalah penting. Perubahan iklim, ancaman kekeringan, serta eksploitasi sumber daya alam menuntut kesadaran kolektif untuk menjaga bumi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Sumba. Merawat alam bukan sekadar kewajiban ekologis, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual.
Peringatan ini juga menjadi ruang refleksi tentang hubungan antara Injil dan budaya Sumba. Selama 145 tahun, keduanya terus berdialog dalam berbagai bentuk kehidupan masyarakat. Hubungan yang saling menghargai antara iman dan budaya menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang harmonis dan berkeadaban.
Bagi masyarakat Sumba, 145 tahun masuknya Injil merupakan perjalanan panjang yang sarat makna. Warisan terbesar yang ditinggalkan bukan hanya bangunan gereja atau catatan sejarah, melainkan nilai-nilai kemanusiaan yang terus hidup dalam pelayanan, pendidikan, persaudaraan, dan semangat gotong royong.
Karena itu, peringatan ini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya secara jujur: apakah nilai-nilai kasih yang diwariskan selama 145 tahun benar-benar telah terwujud dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kehadiran gereja dan umat beriman telah menjadi jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar perayaan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi titik tolak untuk memperbarui komitmen bersama dalam membangun Sumba yang lebih manusiawi, adil, berdaya, dan bermartabat.
Di usia ke-145 tahun, jejak Injil di Tanah Sumba sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia berbicara tentang masa depan: tentang bagaimana kasih diterjemahkan menjadi tindakan, bagaimana iman diwujudkan dalam pelayanan, dan bagaimana harapan terus ditanam bagi generasi yang akan datang.
Piter: Kabiro Sumba Timur






