Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Oleh: Casroni, BTN – Kamis, 25 Juni 2026, Momentum malam sakral 9 dan 10 Suro selalu hadir sebagai waktu yang krusial, khusyuk, dan sarat akan makna mendalam. Baik dari sudut pandang kosmologi budaya Jawa (Kejawen) maupun spiritual Islam (Hijriah), transisi waktu ini memancarkan energi refleksi yang luar biasa. Terlebih, bulan Suro berjalan beriringan dengan kesucian bulan Muharram, sebuah fase di mana manusia diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk duniawi untuk menakar bobot spiritualitas dan cara mereka memandang sesama.

​Dinamika kehidupan pada hakikatnya akan terus berputar seperti poros roda yang tidak pernah berhenti sedetik pun. Manusia hidup dalam sebuah rotasi misterius yang penuh rahasia; ada kalanya berada di puncak kejayaan, namun ada kalanya terhempas ke titik nadir paling bawah. Dalam falsafah Jawa, fenomena perputaran nasib ini dikenal sebagai Cakra Manggilingan—sebuah hukum alam yang menegaskan bahwa kondisi sosial dan derajat manusia di dunia ini bersifat sangat dinamis.

​Apa yang kita genggam dengan jemari yang kokoh hari ini, bisa jadi esok hari terlepas dan lenyap tanpa bekas. Sebaliknya, siapa yang hari ini terpuruk dalam kemiskinan atau dipandang rendah, esok hari bisa saja berbalik menjadi pemimpin yang dihormati. Namun sayangnya, di tengah perputaran roda kehidupan yang begitu nyata ini, kita kerap menyaksikan sebuah fenomena sosial yang memprihatinkan: runtuhnya pilar kemanusiaan akibat hilangnya rasa saling menghargai.

​Mengapa kebanyakan manusia modern saat ini cenderung memelihara penyakit hati dan gemar memandang rendah orang lain? Jangankan kepada orang asing yang tidak dikenal, bahkan terhadap kawan sejawat yang berjuang bersama hingga saudara kandung yang sedarah pun, sikap meremehkan kerap kali dipertontonkan. Pandangan “sebelah mata” seolah telah menjadi standar sosial baru untuk mengukur harga diri seseorang berdasarkan materi belaka.

​Padahal, sudah sangat gamblang tertulis dalam kitab suci bahwa Allah SWT menciptakan manusia dalam rupa dan struktur yang paling sempurna. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah At-Tin ayat 4: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Kesempurnaan ini tidak hanya merujuk pada ketajaman akal, melainkan juga pada fisik yang seimbang, termasuk karunia dua mata yang berfungsi secara selaras.

​Lantas, sebuah pertanyaan besar muncul ke permukaan: mengapa masih banyak dari kita yang secara sengaja memilih menggunakan “satu mata” saja untuk menilai kehidupan orang lain? Mengapa kita begitu gemar menutup mata yang satu dan membiarkan mata yang lain menghakimi sesama secara timpang? Perilaku inilah yang membawa ingatan kita pada peringatan eskatologi Islam mengenai sebuah personifikasi keburukan paling mutakhir di akhir zaman.

​Secara eskatologi Islam, Dajal dicirikan memiliki keterbatasan fisik yang sekaligus mencerminkan kecacatan spiritualnya, yakni buta sebelah mata. Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya secara tegas dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari: “Ketahuilah bahwa Dajal itu buta sebelah matanya, sedangkan Tuhanmu tidaklah buta sebelah.” Hadis ini bukan sekadar informasi fisik, melainkan sebuah metafora tajam tentang cara pandang yang rusak.

​Sifat dasar Dajal adalah melihat segala sesuatu secara cacat, timpang, penuh tipu daya, dan hanya berorientasi pada kemegahan lahiriah semata. Ketika seorang manusia memilih untuk selalu memandang sesamanya dengan sebelah mata—hanya melihat kekurangan, status sosial, atau masa lalu kelam seseorang—maka pada saat itulah perilakunya sejatinya sedang meniru sifat-sifat kedajalan. Kita secara sadar menutup mata dari kebenaran objektif dan kebaikan utuh yang ada pada diri orang lain.

​Manusia dikaruniai dua mata oleh Sang Pencipta agar mampu membaca dunia secara objektif, menyeluruh, adil, dan seimbang. Melalui dua lensa biologis tersebut, kita diminta untuk melihat tidak hanya aspek lahiriah yang tampak di permukaan, melainkan juga menyelami aspek batiniyah yang tersembunyi. Dua mata adalah simbol keadilan berpikir, di mana mata kanan memandang dengan syariat dan kebenaran, sementara mata kiri memandang dengan kasih sayang dan empati.

​Namun, realitas sosial di lapangan justru berbicara sebaliknya dan menampilkan pemandangan yang mengiris hati. Banyak manusia modern yang secara sadar memilih untuk mengalami “kebutaan sebelah” demi memuaskan ego dan kesombongan pribadi. Mereka hanya menggunakan satu mata untuk menilai casing atau kulit luar seseorang, lalu dengan cepat menjatuhkan vonis sosial yang kejam.

​Perilaku nyacad atau gemar mencari-cari celah buruk dan merendahkan martabat orang lain ini merupakan tindakan yang sangat dilarang keras dalam agama. Allah SWT secara tegas memberikan peringatan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…” Ayat ini menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang merasa dirinya lebih mulia.

​Ketika melihat kawan, tetangga, atau saudara sendiri sedang berada di bawah dan terseok-seok dihantam badai kehidupan, dengan mudahnya pandangan sebelah mata itu dilemparkan sebagai bentuk keangkuhan. Mereka yang sombong ini lupa bahwa Cakra Manggilingan tidak pernah tidur, dan Tuhan bisa membalikkan keadaan dalam sekejap mata. Berdasarkan ilmu titen dalam khazanah Primbon Jawa, sifat jumawa terhadap sesama justru sering kali menjadi magnet yang mempercepat runtuhnya keberuntungan seseorang (keblinger).

​Hukum alam semesta selalu adil; siapa yang hari ini dihinakan dan berada di posisi paling bawah, bisa jadi esok hari akan diangkat derajatnya oleh Tuhan ke tempat yang paling tinggi demi menunjukkan kuasa-Nya. Oleh karena itu, melalui momentum refleksi Suro dan Muharram yang sakral ini, mari kita jadikan waktu malam yang sunyi untuk bercermin dan memperbaiki kualitas jiwa kita yang mungkin mulai mengeras.

​Jangan pernah lagi memandang sesama manusia dengan sebelah mata, dan berhentilah bertindak seolah kita adalah hakim agung atas jalan hidup orang lain hanya berdasarkan sudut pandang yang sempit. Ingatlah kembali sebuah peringatan luhur dari baginda Rasulullah SAW yang bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim).

​Sebagai penutup, mari kita kembali ke khittah sejati kita sebagai manusia seutuhnya yang memanusiakan manusia lain. Gunakan kedua mata yang telah dianugerahkan Tuhan untuk melihat dunia ini dengan rasa empati yang dalam, keadilan yang kokoh, serta kebijaksanaan yang menyejukkan. Ingatlah dengan bijak bahwa di atas langit masih ada langit, dan rahasia berputarnya roda kehidupan tidak akan pernah ada satu pun makhluk yang tahu pasti.